MAKASSAR,DAULATRAKYAT-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan komitmen penuh untuk mempercepat hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) sebagai pilar utama penguasaan teknologi nasional.
Dalam kerangka strategis ini, Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi ditunjuk sebagai pusat (hub) utama guna mengintegrasikan riset, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan transfer teknologi di kawasan timur Indonesia.
LTJ sebagai “Vitamin Teknologi” dan Pilar Negara Maju
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Ir. Surono, menjelaskan bahwa LTJ diibaratkan sebagai “vitamin” bagi teknologi maju. Meski volumenya relatif kecil dan kebutuhannya tidak sebesar komoditas pangan seperti nasi, LTJ memiliki tingkat urgensi yang tinggi serta fungsi yang sangat krusial untuk berbagai sektor modern, mulai dari kendaraan listrik hingga efisiensi insinerator. Surono menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya mengekspor bahan mentah agar tidak sekadar menjadi penonton dalam rantai pasok teknologi global.
Jaminan Kajian Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat Lokal
Menanggapi kekhawatiran dampak lingkungan, Surono memastikan bahwa setiap kegiatan penambangan LTJ—termasuk rencana eksploitasi di Mamuju—wajib melalui rangkaian kajian lingkungan yang ketat dan diuji secara berlapis oleh kementerian terkait, mulai dari proses ekstraksi hingga reklamasi.
Selain itu, ia menekankan agar masyarakat di sekitar wilayah tambang tidak ditinggalkan, melainkan harus turut merasakan kesejahteraan seiring meningkatnya nilai ekonomi dari kekayaan mineral tersebut.
Unhas sebagai Hub Utama dan Kolaborasi Pentahelix
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian ESDM, Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., memaparkan bahwa pengembangan LTJ ini melibatkan sinergi lintas perguruan tinggi di seluruh Indonesia, dengan Unhas sebagai motor penggerak utama di wilayah timur. Model kerja sama ini menerapkan konsep pentahelix yang menyelaraskan peran pemerintah, industri, akademisi, masyarakat, dan NGO.
Prof. Tirta menegaskan bahwa perusahaan atau investor yang mendapatkan insentif dari pemerintah perlu berbagi melalui transfer teknologi dan pengembangan fasilitas fisik serta SDM secara terstruktur di Indonesia.
Akselerasi Target Eksplorasi Lewat Kerja Sama Internasional
Guna mengatasi tantangan penguasaan teknologi yang masih tertinggal dibanding negara lain seperti Cina, pemerintah memperkuat kerja sama internasional, salah satunya dengan Sustainable Mining Institute dari University of Queensland (UQ) Australia yang telah berpengalaman puluhan tahun.
Melalui sinergi lintas instansi bersama Badan Industrial Mineral (BIM) serta dukungan berbagai pihak terkait, target waktu eksplorasi yang normalnya memakan waktu hingga enam tahun dipangkas secara drastis menjadi hanya satu tahun ke depan.
Langkah percepatan ini diharapkan mampu mewujudkan visi besar hilirisasi nasional yang berorientasi pada prinsip “kaya bersama, sejahtera bersama, dan pintar bersama”.


















