• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Main Navigation
Selasa, November 3, 2026
Daulat Rakyat
Web Official Daulat Rakyat
  • Home
  • Redaksi
    • Pengunjung
  • Catatan Redaksi
No Result
View All Result
Daulat Rakyat
  • Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Main Navigation
Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Daulat Rakyat

Ritual Budaya Mappacekke Wanua Warnai Rangkaian Acara Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke–66

LinaQalabi by LinaQalabi
24.07.2025
in Berita

Luwu daulatrakyat.id  – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke-66, Pemerintah Kabupaten Luwu, melalui Dinas Pariwisata mengadakan acara adat budaya, “Mappacekke Wanua”, di Baruga Arung Senga Kec. Belopa Kabupaten Luwu, Rabu (2/7/2025).

Mengawali prosesi pada pagi hari pukul 08.00 Wita, Bupati Luwu, H. Patahudding, S.Ag, Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu, SH, Ketua DPRD Luwu, Ahmad Gazali, SE, Ketua TP-PKK Kabupaten Luwu, Hj. Kurniah Patahudding, A.Md, Ketua Bidang I TP-PKK, Nilasari Dhevy Bijak, SKM, Para Kepala OPD bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu dengan memakai baju adat.

Bupati dan Wakil Bupati Luwu bersama rombongan kemudian mengawali ritual Mappacekke Wanua dengan ritual adat mallekke wae atau mengambil air suci dari bubung parani, sebuah sumur khusus sebagai sumber air yang digunakan dalam acara ritual adat.

Ritual ini dilakukan dipagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur. Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan sinrangeng lakko atau usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang belum aqil baliq atau tenna wette dara sebagai simbol kesucian.

Sinrangeng lakko (usungan adat) tersebut diiringi oleh palluru gau (instrumen dan atribut-atribut upacara adat) serta para pemuka adat. Air yang disucikan tersebut diarak menuju Baruga Arung Senga untuk diletakkan di atas “Lamming Pulaweng” atau “Singgasana Kehormatan”.

Mappacekke Wanua merupakan ritual adat Tanah Luwu secara harfiah berarti mendinginkan negeri. Maksudnya adalah untuk mendinginkan suasana atau menghilangkan ketegangan-ketegangan dan keretakan-keretakan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa berakibat melonggarkan komitmen kesatuan yaitu maseddi siri’ diantara kalangan masyarakat.

Tujuannya melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan keseimbangan (equilibrum) kesatuan ikatan masseddi’ siri’ antara seluruh komponen di dalam masyarakat. Keseimbangan persatuan dan kesatuan ikatan masseddi’ siri’ di dalam masyarakat diharapkan secara “adi kodrati” akan menciptakan suasana harmonis dan dinamis yang akan mendatangkan berkah berupa kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Previous Post

Ribuan Peserta Ikut Jalan Sehat Semarakkan Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke-66

Next Post

Sambut Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke-66, Pemkab Gelar Dzikir Dan Tabligh Akbar

Next Post

Sambut Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke-66, Pemkab Gelar Dzikir Dan Tabligh Akbar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

https://dprd.makassar.go.id/
https://dprd.makassar.go.id/
  • Berita
  • Pendidikan
  • Pemerintahan
  • Ekobis
  • Hiburan
  • Politik
  • Opini

© 2024Daulat Rakyat - Santun Cerdas Kritis

No Result
View All Result

© 2024Daulat Rakyat - Santun Cerdas Kritis

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In