• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Main Navigation
Selasa, November 3, 2026
Daulat Rakyat
Web Official Daulat Rakyat
  • Home
  • Redaksi
    • Pengunjung
  • Catatan Redaksi
No Result
View All Result
Daulat Rakyat
  • Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Main Navigation
Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Daulat Rakyat

Empat Inovasi Luwu Utara Dinilai Unik dan Menarik

by
19.03.2021
in Berita

Makassar, daulatrakyat.id — Empat inovasi Luwu Utara mendapat apresiasi dari Tim Panelis Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dalam penilaian tahapan presentasi dan wawancara, Kamis (18/3/2021), yang dilaksanakan di Lotus Ballroom B Lantai 2 Four Points by Sheraton Makassar.

Empat inovasi tersebut adalah Peta Baper atau Peta Berbasis Partisipatif (Bappeda), Getar Dilan atau Gerakan Tanam Sayur di Lahan Pekarangan (Dinas Ketahanan Pangan), Kebun Si Pintar atau Siswa Peduli Lingkungan Sekitar (Dinas Pendidikan), dan Rompi KPK atau Kelas Pencegahan Korupsi (Dinas Pendidikan).

Menariknya, usai para inovator melakukan presentasi, dalam sesi tanya jawab berdurasi 20 menit, empat inovasi Luwu Utara dinilai unik dan menarik oleh para Panelis.

Inovasi Getar Dilan yang dibawakan Alauddin Sukri dinilai sebagai inovasi yang memiliki manfaat yang luar biasa. Selain karena inovasi ini non budgeting, juga inovasi ini memiliki tujuan untuk menurunkan angka rumah tangga miskin di Luwu Utara.

“Inovasi itu mengeluarkan sedikit mungkin biaya, tapi menghasilkan sesuatu yang besar. Saya kira inovasi ini menarik,” tutur Dermayana Arsal, salah seorang panelis dari Pemprov Sulsel.

Panelis lainnya, Sarwansa dari NGO Kompak, malah memberikan masukan yang berharga agar inovasi ini bisa lebih memiliki dampak positif yang lebih luas lagi. Ia menyarankan, inovasi Getar Dilan ini mengombinasikan antara tanaman sayuran dan tanaman obat keluarga.

“Inovasi ini akan lebih unik jika dikombinasikan antara tanaman sayuran dan tanaman obat keluarga atau tanaman herbal. Kita harus tunjukkan keunikan itu. Saya teringat kata-kata Dilan. Rindu itu berat, kamu pasti tidak sanggup, cukup aku saja yang lakukan,” ucap Sarwan tersenyum.

Inovasi kedua yang tampil adalah Kebun Si Pintar. Inovasi ini dibawakan dengan menarik oleh Suharto. Inovasi ini juga mendapat apresiasi dari para panelis karena merupakan kombinasi atau perpaduan antara teori dan praktek di kalangan anak-anak sekolah atau peserta didik di tingkat SD.

“Inovasi ini saya lihat sangat mengedukasi anak-anak sekolah, khususnya terkait materi muatan lokal perkebunan dan peduli lingkungan. Bagaimana anak-anak diajak terlibat aktif dalam mengelola kebun, dan yang paling unik adalah karena menyasar anak sekolah yang kurang mampu,” tutur panelis, Sarwan.

Inovasi ketiga yang tampil adalah Peta Baper yang dibawakan Ikbal Cahyadi. Oleh panelis, inovasi ini disebut unik dan menarik karena melibatkan partisipasi masyarakat di desa. Selain itu, baru kali pertama Bappeda menghadirkan inovasi. Di mana inovasi selalu berasal dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan.

“Keunikan inovasi Peta Baper adalah karena menggunakan pendekatan partisipatif, melibatkan tokoh masyarakat desa serta para pemangku kepentingan lainnya yang ada di desa,” jelas Ahmar.

Senada Ahmar, panelis lainnya, Lukman, juga memuji inovasi ini.

“Inovasi ini kelihatannya sederhana, tapi tuntas. Ini yang membuat inovasi Peta Baper menarik,” kata Lukman.

Bahkan panelis lainnya, Sarwan, dari NGO Kompak, menilai Peta Baper sebagai inovasi yang sangat unik dan menarik.

“Selain karena melibatkan partisipasi masyarakat, inovasi ini juga menggunakan dana desa, menggunakan perencanaan desa dan penganggaran desa melalui APBDes, serta dikerja bukan hanya Bappeda, tetapi ada kolaborasi lintas sektor,” jelas Sarwan.

Inovasi terakhir adalah Rompi KPK. Meski terakhir, Inovasi ini mengundang applaus dari semua panelis. Selain judul inovasinya unik, yang membuat para panelis tertarik dengan inovasi ini adalah karena inovasi ini memberikan sentuhan pembangunan karakter sejak dini.

“Meski agak sensi sedikit, tapi inovasi ini unik dan menarik karena kita diajak untuk membangun karakter sejak dini,” kata Panelis, Ahmar.

Meski begitu, para panelis lain juga memberikan saran agar tetap berhati-hati menggunakan kata “korupsi” bagi anak-anak yang masih usia dini.

“Jangan ajari anak dengan kata korupsi. Alangkah baiknya kata “korupsi” dihindari meski itu ada kata ‘anti’ di depannya. Ganti saja kata korupsi dengan pendidikan berani jujur itu benar,” kata panelis, Lukman.

Panelis lainnya, Dermayana, malah memberikan ‘standing ovation’ terhadap Rompi KPK.

“Saya selalu mengapresiasi apapun yang berhubungan dengan pendidikan karakter. Ini penting, terutama di negara kita,” tutup Dermayana. (lh/jal)

Previous Post

Hadirkan Listrik di Dusun Terpencil Enrekang-Sulsel, PLN Dorong Produktivitas Warga

Next Post

Dinas Pertanian Luwu Kembangkan Budidaya Tanaman Holtikultura

Next Post

Dinas Pertanian Luwu Kembangkan Budidaya Tanaman Holtikultura

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

https://dprd.makassar.go.id/
https://dprd.makassar.go.id/
  • Berita
  • Pendidikan
  • Pemerintahan
  • Ekobis
  • Hiburan
  • Politik
  • Opini

© 2024Daulat Rakyat - Santun Cerdas Kritis

No Result
View All Result

© 2024Daulat Rakyat - Santun Cerdas Kritis

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In