Training Caleg LSKP, utamakan kualifikasi agar kompetitif

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.ID.Lembaga Study Kebijakan Publik bekerjasama dengan International Republican Institute (IRI) pada hari kamis 14 februari pukul 10 pagi tadi menyelenggarakan training caleg perempuan se-sulawesi selatan.

Acara yang bertempat di Hotel Singgasana ini, menurut pengamatan saya terbilang sukses dengan tingkat partisipasi dan perwakilan partai dari seluruh kabupaten yang cukup tinggi dengan antusiasme peserta yang responsif selama acara berlangsung.

Direktur LSKP Dr. Yudha Yunus bersama pelaksana program, Salma Tadjang nampak memberikan arahan-arahan terhadap peserta training terkait bagaimana caleg-caleg perempuan dapat memainkan peran secara optimal di dapilnya masing-masing untuk meningkatkan persentase keterpilihan.

Bertindak sebagai salah satu pemateri Dr. Lu’mu Tarris dari UNM Makassar turut memaparkan materi yang dapat menunjang upaya caleg perempuan agar dapat terpilih pada 17 april mendatang.

Mendapat undangan dari kordinator analisis data LSKP, Amril Hans untuk berpartisipasi sebagai peserta training mewakili dapil 1 kecamatan Sombaopu-Gowa adalah sebuah kesempatan yang baik bagi saya. Puluhan caleg lintas partai dari daerah yang berbeda-beda juga terlihat sangat aktif dalam sesi diskusi dan mengemukakan beberapa pandangan serta pengalamannya masing-masing.

Beberapa point penting tentang agenda apa saja yang telah kami lakukan bersama teman-teman caleg seluruh kabupaten di sulsel. Dalam proses diskusi terungkap fakta di lapangan, terdapat banyak kendala yang dijumpai, terutama problem terkait politik uang dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap caleg perempuan.

Pada kondisi ini, menurut hemat saya caleg sebaiknya tidak perlu fokus terhadap kendala yang banyak dijumpai. Justru kita harus melihat kondisi dan berbagai polemik kepemiluan dalam berbagai perspektif ini sebagai tantangan yang harus dijawab dan ditaklukkan.

Seorang calon legislator yang sedang berjuang untuk meyakinkan masyarakat agar dapat dipercaya sebagai wakil rakyat di parlemen memang harus bisa menemukan strategi dalam berkompetisi yang objektif dan konstruktif bagi semua pihak. Menjadi penyampai aspirasi itu tugas mulia, ada baiknya kita lakukan kerja-kerja politik yang on the track dan kreatif.

Maraknya tindak kecurangan dan mewabahnya praktik money politic memang tak boleh lagi dibiarkan tumbuh dan semakin merecoki pemikiran para elit politik dan masyarakat. Sudah saatnya politik adu gagasan dan adu argumentasi secara fair dan edukatif itu dibiasakan kembali dalam tiap kontestasi.

Agar, praktik-praktik yang melanggar aturan itu dapat terkikis dan tidak berlanjut menjadi sebuah karakter yang menjadikan kita miskin kualitas berpikir dan tidak menjadi elit politik serta pemilih yang cerdas. Salah satu tugas utama kelak setelah terpilih kan melaksanakan amanat dari pembukaan UU yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang wujudnya harus bertransformasi dalam perilaku kita, termasuk menghindari hal-hal tercela dalam setiap pesta demokrasi.

Evaluasi dan penguatan sistem harus dilakukan. Pun salah satu muaranya jelas ada pada institusi penyelenggara, KPU, BAWASLU, PANWASLU. Mereka harus terdepan sebagai aktor utama dalam berkomitmen menjaga integritas, melaksanakan aturan yang ada dan tak boleh segan untuk menjatuhkan sanksi terhadap siapa saja yang terbukti secara sah melakukan pelanggaran, tidak hanya sebagai efek jera bagi pelaku tindak curang dan politik uang namun juga sebagai upaya untuk merubah kondisi di masyarakat supaya nantinya tak lagi terjebak dalam pragmatisme berpikir, akan tetapi lebih objektif menilai figur-figur mana yang layak untuk dipilih mengemban amanah mulia sebagai penyampai aspirasi.

Mengutip Tere Liye, dalam “Negeri Di Ujung Tanduk” bahwa : Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan.
Dan perempuan?? tentu saja harus berkontribusi dan memaksimalkan peran, bukan hanya karena alasan gender semata, perempuan adalah salah satu aktor perubahan yang memiliki peran strategis dalam proses pembangunan bangsa dan harus tampil dengan kualifikasi mumpuni yang tak lagi sebagai “pelengkap” kuota 30 persen saja.

Penulis : Renny Puteri Harapan Rani Rasyid, S.I.Pem, M.AP
Jabatan : Caleg Demokrat Kab. Gowa dapil 1 Kecamatan Sombaopu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.