Terkait Aksi Teror di Indonesia,Ini Pernyataan Jaringan Perempuan Perdamaian dan Keamanan

Jakarta.daulatrakyat.id-Jaringan Perempuan, Perdamaian dan Keamanan menghadiri forum workshop Nasional pada 14-15 Mei 2018 lalu di Hotel Morrissey Jakarta.

Mereka mengecam keras peristiwa bom, aksi teror, dan kekerasan ekstrim yang terjadi di Surabaya pada hari Minggu dan Senin 13-14 Mei 2018

Jaringan perempuan inipun juga prihatin dengan aksi teror yang terjadi di Mako Brimob Depok, Sidoarjo dan
tempat-tempat lainnya.

Melalui rilis yang dikirim keredaksi daulatrakyat.id Kamis 17 Mei 2018, aktivis Aman Indonesia Ruby Kholifah menyampaikan rasa duka mendalam kepada para korban, keluarga dan masyarakat yang menjadi korban langsung dan tidak langsung atas kejadian teror bom.

“Kami mendukung pemulihan penuh bagi para korban yang dirawat di Rumah Sakit. Negara diharapkan hadir secara utuh dalam mengupayakan pemulihan jangka panjang dan memberikan hak-hak korban sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Ruby.

Mereka mengutuk keras adanya penggunaan tubuh perempuan dan anak-anak dalam aksi teror Surabaya dan mengganggap ini bagian dari taktik perang terbaru para teroris untuk mencapai tujuannya.

Ruby menyebutkan penggunaan tubuh perempuan dalam aksi teror ini, bukan saja dengan sengaja mencabut hak hidup perempuan, tetapi juga mengancam hilangnya budaya damai perempuan, serta keberlanjutan regenerasi manusia.

Jaringan perempuan perdamaian ini mendukung langkah-langkah taktis dan strategis yang diambil oleh Polri dalam melakukan pengamanan menyeluruh di daerah-daerah yang dirasa rawan aksi teror, dan memberikan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk menangkap pelaku dan jaringannya secara tuntas dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip HAM, pendekatan human security, dan perspektif gender.

“Penegakan hukum terhadap pelaku tindakan teror harus dilakukan demi tegaknya supremasi hukum di Indonesia,” tegasnya.

Karena itu,mereka mendorong agar Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak segera melakukan kordinasi menyeluruh dengan kementerian dan dinas-dinas terkait, dengan melibatkan
masyarakat sipil yang bekerja di bidang terkait untuk menentukan langkah-langkah taktis dan strategis dalam mendampingi korban dan keluarganya.

Mereka juga mendukung KPPPA untuk
melakukan kajian ulang bersama dengan BNPT, MenkoPolhukam, LIPI dan institusi penelitian di universitas terkait dengan trend keterlibatan perempuan dan dalam aksi teror, apalagi melibatkan seluruh anggota keluarga, untuk menentukan tindakan pencegahan di masa mendatang.

Mereka juga menyeru kepada pekerja media untuk hanya menampilkan pemberitaan yang terpercaya dan bersifat mendorong pada upaya kerjasama merespon situasi pasca teror ini.

Bagi para pengguna media sosial dan masyarakat yang luas hendaknya hanya mempercayai sumber-sumber pemberitaan yang formal dan terpercaya dan tidak menyebarkan foto-foto korban yang menciptakan rasa dan suasana ketegangan dan ketakutan.

Tak hanya itu, mereka mendukung percepatan penuntasan pembahasan RUU Anti Terorisme, Rencana Aksi
Nasional Penanggulangan Ekstrimisme sebagai landasan regulasi nasional untuk penanganan
kekerasan ekstrimisme mengarah pada terorisme.

Juga mendukung percepatan pembentukan Rencana Aksi Daerah Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial (RAD P3AKS) dengan mengintegrasikan elemen kunci pencegahan kekerasan ekstrimisme mengarah pada terorisme, seperti yang dimandatkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 dan
2242.

Oleh karena itu, pihaknya mengutuk keras penggunaan agama untuk pembenaran terhadap aksi teror dan politisasi agama untuk kepentingan politik.

“Kami mengapresiasi upaya-upaya dari berbagai organisasi keagamaan yang secara cepat merespon tindak teror dengan pernyataan sikap tegas yang memberikan ketenangan bagi masyarakat dan mendorong upaya dialog dan kerjasama lintas agama,” begitu statmen Jaringan perempuan, perdamaian dan keamanan.

Aman Indonesia Ruby Kholifah (foto: Pikiran Rakyat)

Sumber Ruby Kholifah (AMAN Indonesia)
Editor : Salim Majid

Berikut inilah organisasi yang tergabung dalam jaringan perempuan, perdamaian dan keamanan

1.Arifah Rahmawati, Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gajah Mada Jogjakarta.
2. Hilda Rolobessy, Lakpesdam NU Maluku.
3. Baihajar Tualeka, LAPPAN Maluku.
4. Sri Wiyanti Eddyono, Fakultas Hukum UGM Jogjakarta
5. Elektronita Duan, Yayasan Sanro Tobelo Maluku Utara
6. Luisa Carningsih Bunga, CIS Timor NTT
7. Suraiya Kamaruzzaman, Balay Syura Aceh
8. Emma Raw Malaseme, Papua
9. Dewi Rana, Lingkar Belajar Perempuan (LIBU) Palu
10. Nurina Vidya Hutagalung, The Habibie Center Jakarta
11. Mira Kusmirarini, C- Save Jakarta
12. Roziqoh, Fahmina Institute Cirebon
13. Hesti Armiwulan, FKPT Jawa Timur
14. Dian Noeswantari, PUSHAM Universitas Surabaya
15. Wiwin Siti Aminah Rohmawati, Srikandi Lintas Iman Jogjakarta
16. Anna, Kalyanamitra
17. Dete Aliah, Serve Indonesia
18. Any Rufaedah, Daya Makara UI
19. Yuniyanti Ch, Komnas Perempuan
20. Riri Khariroh, Komnas Perempuan
21. Taufik Andrie, Yayasan Prasasti Perdamaian

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.