Sepekan HUT RI ke 73, Lagu Kemerdekaan Terdengar dari Mulut Anak-anak Korban Gempa Bumi di Lombok Utara

NTB.daulatrakyat.id-
Sepekan peringatan hari kemerdekaan Indonesia LPSDM menggelar hias merah putih di tenda pengungsian.

Kegiatan tersebut bagian dari pemulihan pasca gempa bumi yang menguncang Lombok Utara pekan lalu.

Dibalik derita korban atas gempa hebat itu mengalir cerita yang mengharukan, yang dituturkan oleh Kordinator Capacity Building Gender Watch (LPSDM) Lulu kepada daulatrakyat.id Senin kemari.

Kegiatan yang dipusatkan di dusun Segenter Desa Sukadana Kecamatan Bayan, Lombok Utara dengan melibatkan 100 anak dan 20 orang tua.

Tim LPSDM mulai memperkenalkan tujuan kegiatan, menghidupkan suasana dengan cara menyanyi lagu balonku bersama sambil bertepuk tangan.

Sedikit agak malu-malu mengeluarkan suara. Terutama usia yang masih SMP

Tenda-Tenda Pengungsian Anak-Anak Korban Gempa Bumi di beri Pemulihan Trauma oleh Tim LPSDM (dok:dr)

Berbeda dengan usia TK-SD sangat semangat bernyanyi, termasuk beberapa anak yang masih dalam balutan perban ikut bernyanyi gembira.

Dari balik tenda pengungsian anak-anak itu mulai menghias tenda dengan balon bersama orang tua.

Membuat bendera dari kertas warna-warni. Rasa bahagia terpancar dari raut wajahnya.

Dengan bangga mereka menunjukkan hasil bendera buatannya kepada tim LPSDM dengan berkata ” Kak bendera saya sudah jadi”. Kamipun terharu dalam balutan senyum.

Di tenda pengungsian anak-anak itu dan orang tua diajak menyanyikan lagu kemerdekaan sambil mengibarkan bendera ditangannya. Terlihat anak yang belum duduk dibangku sekolah hanya bisa melambaikan bendera sambil tersenyum gembira.

Lagu-lagu Nasional pun dinyanyikan secara bersama dan sesekali meminta anak-anak untuk menyanyi kedepan lagu-lagu yang dihafal. Lulu pun memberikan bingkisan sebagai hadiah yang telah berani menampilkan kemampuan bernyanyi.

Tak hanya itu, tim pemulihan korban gempa mulai menggali sejauh mana trauma yang dirasakan anak-anak dengan cara meminta mereka menggambarkan tubuhnya pada satu lembar kertas putih menggunakan spidol warna.

Dengan instruksi tim, anak-anak itu diminta untuk memberikan tanda lingkaran pada bagian tubuh yang dirasakan sakit.

Hasilnya sebagian besar anak memberikan lingkaran pada bagian kepala, perut, kaki dan tangan.

“Kami yakin jawaban itu memiliki makna bahwa mereka sangat trauma berat,” ujar Lulu dari aktivis Lembaga Sumber Daya Mitra (LPSDM) Kapal Perempuan dan Sekolah Perempuan.

Aktivis mitra Kapal Perempuan ini mencoba menggali apa saja mimpi dan cita-cita mereka kelak setelah dewasa.

Secara spontan ada yang menjawab ingin menjadi guru, pelukis, pilot, dokter, petugas pemadam kebakaran, petugas pembantu korban gempa dan banyak lainnya. Rasanya Terharu mendengar cita-cita meraka.

Tim pun balik bertanya apa yang harus dilakukan untuk meraih cita-cita tersebut? Mereka dengan kompak menjawab sekolah dan belajar agar menjadi orang pintar.

Bahkan salah seorang anak sempat bercelutu “Tapi kemana kita sekolah, sekolah kami hancur kak”.

Kami pun kemudian menjelaskan bahwa sekolah mereka akan dibangun kembali oleh pemerintah, serta kami memberikan motivasi bahwa sementara ini belajar bisa di berugak bersama orang tua dan teman-teman.

Kami kemudian membagikan potongan gambar jari tangan sebagai tempat menuliskan cita-cita mereka dan menyimpannya dirumah masing-masing

Tim kemudian membagikan bingkisan kepada semua anak dan orang tua, serta mendokumentasikan dlm foto bersama.(lulu)

LPSDM Mitra Sekolah Perempuan Saat Ditenda Pengungsian Korban Gempa Bumi di Lombok Utara

Editor :Salim Majid

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.