PIFAF 2018, Memburu Dollar Ditengah Gelimang Pesta Budaya

Polman.daulatrakyat.id-Event Polewali Mandar Internasional Folk Art And Festival (PIFAF) merupakan cara yang efektif untuk promosi pariwisata yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal itu diungkapkan Perwakilan Kementerian Pariwisata Afrida seperti yang dilansir kominfo Sulbar.

Seperti apa model Event ini hingga mampu menjadi magnet kepariwisataan di Sulbar dan bernilai ekonomi?

Menurut Doktor Muslimin yang pernah meneliti pariwisata Kaltim, Even PIFAF yang ada di Polman adalah even budaya antara budaya lokal dan budaya non lokal (manca negara),.meskipun unsur pariwisatanya juga terlaksana, khususnya wisata kuliner.

Kegiatan ini menurutnya, sangat bernilai ekonomi jika di elaborasi degan kegiatan wisata alam, wisata pantai, wisata religi.

“Tetapi tentu tidak optimal karena pariwisata polman belum bisa di kategorikan destinasa wisata yang bernilai ekonomi.

Dia mengungkapkan 3 alasan yang subtansi mengapa belum masuk destinasi wisata bernilai ekonomi.

Pertama Infrastruktur dasar destinasi wisata belum memadai.
Kedua, SDM harus tersedia dan terakhir Promosi.

Dia berpandangan, mengelaborasi antara kegiatan budaya degan aspek pariwisata ,khususnya wisata alam, wisata pantai, harus terpenuhi unsur-unsur pariwisata dengan baik

“Apalagi ingin menargetkan turis-turis mancanegara untuk berlomba-lomba datang, terlalu jauh,” ujarnya.

Sebab itu, kata dia mengevaluasi dulu, lalu menyusun perencanaan yang baik, jika tujuannya pariwisata yang bernilai ekonomi, sekaligus memotret aspek plus minusnya even itu,

Tak hanya itu, lanjut dia pelibatan pihak ketiga yang profesional untuk mengolahnya dan didukung sponsor sehingga tidak selalu mengandalkan dana APBD.

“Sebagai catatan, pihak ketiga atau sponsor akan mau terlibat jika bernilai ekonomi,.kalo hanya bersifat seremonial tentu akan sulit,” ujar dia.

Pembukaan PIFAF 2018 di Polman (dok:dr)

Secara terpisah, Doktor Sri Musdikawati punya pandangan tersendiri soal even yang bertaraf Internasional itu.

Sri mengungkapkan PIFAF bisa menjadi ajang promosi pariwisata baik itu wisata budaya, wisata religi yang memiliki potensi wisata di beberapa tempat di Polewali.

“Kesiapan kita menerima wisatawan masih perlu diperbaiki dan dibenahi,” kata Sri Musdikawati yang juga menekuni bidang bahasa lokal mandar.

Dia mengakui jika Destinasi wisata belum terkelolah dengan baik, tentu dibutuhkan sinergi antara masyarakat dan pemerintah.

Hal lain menurut dia perlunya jadwal kegiatan even-even Provinsi seperti Sandeq race disesuaikan dengan jadwal PIFAF.

Namun hal yang paling penting kata dia adalah kemasan Pariwisata harus sesuai visi malaqbiq.

” Jangan mereka yang membawa budayanya ke sini, tapi kita yang mempunyai aturan, norma dan etika yang harus mereka ikuti,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan budaya mandar jika orang tua dulu mandi,” Orang tua kita dulu mandi mattuqdada (sarung diikat di satu bagian bahu, tapi dikemas lagi dengan sopan dan rapih, dirancang khusus yang aman baru disewakan,” katanya.

Ia pun menyebut kebudayaan itu, ia tumbuh dan mengakar di masyarakat jangan hanya sebatas pertunjukan sehingga wisatawan tetap melihat yang natural.

Selain itu, kata Sri kesan monoton terlihat pula pada acara pembukaan. Ia melihat bentuk pertunjukan dari beberapa negara tidak sekaya Indonesia.

Faktor kebersihan nampaknya menjadi catatan penting bagi Sri Musdikawati.

Masalah kebersihan, seperti saat pembukaan sejumlah sampah berserakan di lapangan.

“Jadi anak-anak kita perlu diajari untuk membuang sampah pada tempatnya, dengan menyediakan tempat sampah di setiap titik,” kata dia.

Dengan demikian, Ia menambahkan bahwa Intinya adalah benahi infrastruktur, jaga keaslian dan keunikan kebudayaan.

” Dan yang paling penting evaluasi dampaknya baik itu dampak sosial, ekonomi dan kelestarian nilai-nilai budaya kita,” pungkasnya.

Doktor Sri Musdikawati

Penulis : Salim Majid

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.