Pesta Demokrasi Diantara Gembira dan Nelangsa

Catatan Demokrasi

Oleh : Salim Majid ( Wartawan )

Apa itu pesta demokrasi? Siapa yang berpesta? Rakyatkah atau pemburu kekuasaan?. Jika ditarik dari satu pemaknaan pesta demokrasi sesunguhnya yang berpesta adalah rakyat.

Rakyat yang memiliki mandat tertinggi dalam berdemokrasi. Rakyat memiliki kesetaraan politik memilih dan dipilih.

Bukan sebaliknya orang kaya-raya, kaum eliter yang “haus kekuasaan” dan tidak memberi peluang dan kesempatan bagi orang yang punya kompetensi dan kapasitas dalam mengurusi rakyat.

Demokrasi dalam pandangan yang cukup populer tahun 1863 yang diungkapkan oleh Abraham Lincoln bahwa demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Lantas apakah pandangan Abraham lincoln ini sudah sejalan dengan demokrasi kita?

Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa didapat dari fakta-fakta implementasi demokrasi yang saat ini tengah bergulir.

Jika subtansi demokrasi seperti yang diungkapkan Abraham lincoln. Maka pesta demokrasi dapat ditarik beberapa point penting.

Pertama, untuk melahirkan pemimpin yang kompetensi, kapabel, dan berintegritas, maka intervensi dalam bentuk apapun harus dihindari. Rakyat memiliki kebebesan mutlak dalam berdemokrasi( menentukan calon pemimpin).

Kedua, mahalnya pesta demokrasi akan berdampak pada kualitas demokrasi itu sendiri. Artinya hanya orang-orang berduit yang punya kesempatan dan peluang jadi pemimpin. Padahal Rakyat butuh pemimpin bukan penguasa.

Pesta demokrasi yang segala-galanya adalah uang adalah bentuk pembodohan dan skeptis.

Terus dibangun dalam alam pikir yang pragmatis dan tak ingin beranjak dari keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan.

Ketiga, pendidikan politik menjadi hal urgen dalam membangun demokrasi yang berkualitas dan bermartabat. Sebab pesta demokrasi tak segedar memilih dan larut dalam eforia pesta.

Keempat, segedar coba-coba untuk masuk ke gelanggang politik bukanlah pilihan cerdas. Sebab politik bukanlah pertarungan uji coba. Politik bukan adu ketangkasan. Disana ada desain kematangan yang terukur dan jelas. Mengusung konsep, program dan solusinya.

Oleh karena itu, demokrasi terkadang memunculkan kegagalan yang berujung pada nelangsa (kesedihan). Bahkan tak jarang orang “bunuh diri” “sakit jiwa”.

Way Not ? Begitu banyak harta benda terguras untuk mengejar satu kursi kekuasaan. Miliaran uang ludes tapi gagal meraih satu prestise.

Padahal demokrasi tak mengajari kita berpoyah-poyah. Menghamburkan uang. Sebab demokrasi adalah satu cara dalam mengurusi Rakyat. Bukan mengurusi uang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.