Perdagangan Aksesoris Karapas Penyu Sisik di Pulau Derawan Masih Marak

Berau.daulatrakyat.id- Perdagangan souvenir atau aksesoris yang mengandung karapas penyu sisik (Eretmochelys imbricata) masih saja marak terjadi di Kabupaten Berau. Hal itu diungkapkan lembaga Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Siti Hasanah dalam keterangan tertulisnya, Senin, 24 Desember 2018.

Dari Hasil pemantauan bersama Lintas Alam Borneo (LAB) di Pulau Derawan pada tanggal 23 – 24 Desember 2018 telah ditemukan sedikitnya 250 buah aksesoris berupa cincin dan gelang.

Siti Hasanah menyebutkan maraknya perdagangan aksesoris berbahan dasar karapas penyu sisik itu ditengarai karena pedagang memanfaatkan momen keramaian musim libur Natal dan tahun baru seperti saat ini.

Padahal menurut Siti pada 15 Desember 2018 yang lalu telah dilakukan razia gabungan oleh Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak.

Namun sembilan hari pasca razia masih saja marak perdagangan aksesoris dari karapas penyu sisik ini (24 Desember 2018).

Hasil razia tersebut sekurangnya ditemukan 6.000 sisik baik karapas penyu sisik yang masih utuh, maupun sudah dalam bentuk aksesoris seperti cincin, gelang, dan mata kalung.

“Pada waktu itu tidak hanya dilakukan razia tapi juga diselenggarakan sosialisasi khusus terkait kasus perdagangan aksesoris sisik ini,” ujarnya.

Kegiatan itu juga dihadiri oleh Wakil Bupati Berau (Agus Tantomo), yang telah memberi peringatan keras terhadap pedagang dan pengrajin agar tidak membuat dan menjual aksesoris dari karapas penyu sisik.

Bahkan para pengrajin dan pedagang aksesoris penyu sisik tersebut telah menandatangani perjanjian untuk tidak membuat dan menjual barang ilegal tersebut.

Pendandatanganan itu disaksikan pula oleh Wakil Bupati, PSDKP, BPSPL Pontianak.

Menurut informasi yang dikumpulakan oleh PROFAUNA, setidaknya 16 orang perwakilan dari pedagang dan pengrajin itu menyatakan bahwa mereka tidak akan mengambil, memproses, dan memperdagangkan bagian dari penyu sisik.

Peringatan keras juga disampaikan oleh Wakil Bupati bahwa tidak akan ada toleransi lagi. Bagi yang ketahuan melanggar akan ditindak secara hukum.

Koordinator PROFAUNA Borneo menyanyangkan pula maraknya perdagangan aksesoris berbahan karapas penyu sisik masih terjadi.

“Padahal sudah jelas perdagangan itu adalah melanggar hukum,” kata Siti.

Apalagi menurutnya sudah dilakukan razia dan peringatan keras dari Wakil Bupati pada pedagang dan pengrajin sepuluh hari sebelumnya.

Selain itu, Siti menegaskan bahwa wisatawan harus cerdas dalam memilih oleh-oleh. Jangan sampai mereka membeli barang yang sudah dilarang diperjual-belikan oleh UU, macam aksesoris penyu sisik.

Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi seperti penyu itu diancam dengan hukuman penjara maksimum 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Sebab itu, kata Siti penyu sisik sudah dimasukan dalam kategori spesies yang terancam punah dan masuk dalam daftar merah International Union of Concervation for Nature (IUCN).

Keberadaan penyu sisik di alam sebut Siti sudah sangat menghawatirkan dan diperlukan langkah-langkah tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan bagian tubuhnya.

“Karena jika tidak, maka penyu sisik akan benar-benar punah dalam waktu dekat,” katanya.

Pelestarian penyu lanjut Siti merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya aparat penegak hukum.

“Masyarakat diharapkan untuk berpartisipasi dengan cara melaporkan apabila menyaksikan aktivitas perdagangan aksesoris berbahan dasar karapas penyu sisik,” imbunya.(*)

Editor : Salim Majid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.