Pelita Itu Tak Lagi Menikam Cahayanya di Kampung-kampung

Oleh : Salim Majid

(Sebuah Catatan Jurnalis)

Dulu, cahaya pelita satu-satunya penerangan tradisional di kampung-kampung. Selain  pelita, obor yang terbuat dari bambu diisi minyak tanah.

Menebar cahayanya dalam ruang terbatas di rumah panggung. Dipinggir-pinggir kampung

Diajari mengaji sang guru ngaji di kampung. Alif ba ta dza mengeja pelan tapi pasti, Sebuah Alquran menempel diatas bantal.

Tangan sang guru ngaji menunjuk lafal-lafal quran dengan sebatang lidih

Mata nyalang memandang qalam Ilahi itu. Menghafal lebih cepat ala kampung di tengah warna-warni sarung dan kopiah

Remang cahaya menebar dalam kegelapan ruang. Temarang lampu pelita dan tiupan angin kecil, meliuk-liukkan cahayanya kesana-kemari. Seakan mengelus wajah. Mata tajam menatap setiap baris huruf arab itu.

Para santri kecil itu di uji integritas, pengabdian dan tauladan. Bahkan tanpa perintah santri berlomba-lomba mengangkat air dan mengisi kedalam sebongka guci besar yang terbuat dari tanah liat hingga penuh.

Itu berlangsung terus-menerus selama belajar mengaji di rumah sang guru ngaji.

Ala belajar tempo dolue sengat konvensional dan sederhana. Tak seperti memahami ahli nujun bagaimana menyulap kertas jadi duit.

Begitupun ketika subuh mulai berisik. Dianak tangga rumah panggung sebuah pelita menancap.

Bunyi krak-kikk suara tapak kaki kuda, dibawah kolong rumah panggung. Tranpsortasi tradisional( Dokar ) mengangkut satu-satu barang dagangan menuju pasar tradisional yang dituju.

Alat transportasi tradisional itu mulai bergerak. Berkejaran diatas jalan bebatuan mengejar waktu. Sebab pasar tradisional mulai menggeliat di pagi hari.

Tatkalah Pagi mulai bergerak, sarung masih membungkus seluruh tubuh dan congkok di pinggir sungai mandar.

Mata menatap kebawah air sungai mengalir dengan tenang. Tapi tubuh belum juga beranjak mandi.

Bermain kelereng, aduh jengkrik, gasing dan jekka menjadi menu permainan hari-hari di Kampung-kampung.

30 tahun berlalu, tiang-tiang listrik itu menancap kokoh di pinggir-pinggir jalan kampung. Anggaran miliran dana desa mulai digelontorkan.

Atas nama pembangunan uang negara itu mengalir deras di kampung-kampung. Kabarnya uang rakyat untuk listrik tak karuan.

Satu-satu suara tapak kaki kuda masih terlihat. Meluncur deras diatas jalan beraspal. Cahaya terang mulai menyinari gelap malam. Tak ada lagi gegelapan. Tak ada lagi dokar yang tiap subuh mengangkut barang dagangan.

Alat transportasi tradisional itu digeser atas nama modernisasi. Mobil pete-pete menjadi satu-satunya transportasi publik.

Seiring beranjaknya waktu. Seiring lenyapnya pula para pebisnis tradisional itu. Kemanakah mereka? Wallahuwalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.