Oknum Guru Ringan Tangan, KPAI : Usut Tuntas Kekerasan Guru di SMK Purwokerto

Jakarta.daulatrakyat.id-Video kekerasan yang diduga dilakukan seorang oknum guru di dalam kelas kembali viral di Medsos

Diduga peristiwa itu terjadi di salah satu SMK Swasta di Purwokerto Jawa Tengah. Dalam video tersebut, pemukulan menyasar wajah atau pipi korban. Terlihat dalam video, pemukulan dilakukan dengan ancang-ancang dan sekuat tenaga, saking kerasnya korban pemukulan berpotensi memar dan telinga berdengung beberapa waktu.

Setelah video pemukulan tersbeut viral, tiba-tiba muncul video klarifikasi yang dilakukan oleh oknum guru tersebut.

Dari unggahan video klarifikasi tersebut, ada indikasi pelaku ingin menyampaikan pesan bahwa tujuannya memukul adalah dalam rangka mendidik dan ingin menunjukkan bahwa para korban menerima dan tidak dendam.

“Namun, bagi KPAI cara klarifikasi oknum guru tersebut malah makin menunjukkan bukti kepada penegak hukum bahwa si guru kerap melakukan kekerasan, bahkan tanpa rasa bersalah dan menganggap itu bagian dari mendidik atau mendisiplinkan”, ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan.

KPAI menduga, ucapan dan jawaban anak-anak korban dalam video klarifikasi tersebut adalah jawaban dibawah tekanan atau menjawab sesuai keinginan si oknum guru, karena video sengaja dibuat oleh oknum guru di lingkungan sekolah.

Selain itu, ada ketimpangan relasi antara guru-murid, dimana murid tidak akan berani menjawab sesuai apa yang dia rasakan dan alami.

Terkait kasus pemukulan tersebut, KPAI menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap para korban pemukulan oknum guru di SMK tersebut dan mengutuk keras pendekatan guru dalam mendisiplinkan siswa di kelas dengan cara-cara kekerasan.

Menurut Retno Pemukulan atau penamparan yang dilakukan oknum guru SMK dalam video yang viral tersebut adalah bentuk kekerasan fisik dan melanggar pasal 54 Undang Undang No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

” Itu melanggar UU perlindungan anak dimana “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temanya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya,” kata Retno Listyarti melalui pesan rilis yang dikirim keredaksi daulatrakyat.id Jumat 20 April 2018.

Pelaku kekerasan kata dia juga melanggar Pasal 76C : Setiap orang di larang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

” Adapun sanksinya diatur dalam Pasal 80 (1) : Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 76C, dipidana penjara paling lama 3,6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 72 juta,” ujarnya.

Retno mengatakan, KPAI sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Provinsi Jawa Tengah dan mendapat jawaban dari Kepala Bidang SMK Disdikbud Provinsi Jawa Tengah, bahwa pihak Disdikbud Provinsi Jawa Tengah sebagai pengelola SMK sedang mendalami kasus ini dengan meminta keterangan kepada pihak Kepala Sekolah yang bersangkutan.

Menurut Retno, pihak Kadisdikbud Provinsi Jawa Tengah, telah melakukan pemanggilan kepada pelaku dan kepala sekolah pada Kamis kemarin, 19 April 2018 dan masih daalam proses penanganan.

Retno Listyarti menegaskan, KPAI mendorong Disdikbud Provisi Jawa Tengah untuk mengusut tuntas kasus ini dan jika terbukti bersalah maka harus diproses sesuai dengan ketentuan kepegawaian maupun peraturan perundangan yang berlaku.

Apalagi ujar Retno, korban tidak hanya satu, tetapi banyak sebagaimana ditayangkan dalam video klarifikasi oknum guru tersebut.

“Penegakan hukum dalam kasus ini penting dilakukan agar ada efek jera dan tidak ada peniruan oleh siapapun dalam upaya mendidik atau mendisiplinkan anak,” kata dia.

Sekolah menurutnya, seharusnya menjadi zona aman dan nyaman bagi peserta didik.

Dengan demikian, KPAI menghimbau semua pihak yang memiliki video kekerasan tersebut untuk dihapus dan tidak disebarluaskan lagi, demi kepentingan terbaik bagi anak.

Ilustrasi

Editor : Salim Majid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.