Mereka Bicara Tentang Refleksi Perjuangan Pergerakan Perempuan di Hari Ibu

Makassar.daulatrakyat.id- Peringatan hari ibu 22 Desember,  diselenggarakan hari ini atas kerjasama Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM), Institut KAPAL Perempuan dan Kantor Staf Presiden (KSP).

Direktur YKPM Mulyadi Prayitno yang mewakili ketiga organisasi penyelenggara dalam sambutannya mengatakan, secara umum kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan perjuangan perempuan masa lalu dalam menghadapi tantangan penjajahan kolonial, tradisi, tafsir dan norma konservatif menjadi kekuatan dalam membangun keadilan gender, kebangsaan dan ke-Indonesiaaan saat ini.

Secara khusus kata Muliadi ada 4 point tujuan kegiatan tersebur. Pertama,  menyebarluaskan makna peringatan Hari Ibu sesuai dengan sejarah perjuangan perempuan dalam Kongres Perempuan pertama tanggal 22 Desember 1928 yaitu perjuangan keIndonesiaan dan kesetaraan gender serta pemenuhan hak asasi perempuan.

Kedua, memperkuat kesadaran untuk melakukan tindakan nyata dalam merespon masalah-masalah perempuan dan masalah konservatisme yang menghambat kemajuan Indonesia terutama perempuan dan kelompok rentan lainnya.

Ketiga, memperluas dan memperkuat jaringan terutama perempuan untuk menghimpun kekuatan perjuangan perempuan untuk mewujudkan keadilan sosial, keadilan gender dan perdamaian dalam keberagaman identitas suku, agama, kelas, ras dan gender.

Keempat, menyebarluaskan pembelajaran dan praktek baik dalam melanjutkan perjuangan perempuan 90 tahun lalu, diantaranya membangun budaya yang adil gender, penghapusan perkawinan anak, pemenuhan hak pendidikan perempuan, ha katas kesehatan reproduksi, hukum perlindungan perempuan dalam perkawinan dan lain-lain.

Sementara itu, Deputi V Bidang Politik, Hukum, Keamanan dan Hak Asasi Manusia Kantor Staf Presiden RI, Jaleswari Pramodhawardhani M.A., menyampaikan pesan khusus melalui video, bahwa Hari Ibu sangat layak kita rayakan sebagai Hari Pergerakan Perempuan Indonesia atau Hari Perjuangan Perempuan Indonesia, sebuah arena perjuangan hak-hak perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, hukum, perkawinan, ekonomi, politik, kebebasan berpikir, bebas dari kolonialisme dan mencapai kesetaraan gender.

Ia mengatakan bahwa peringatan ini merupakan rangkaian acara di berbagai provinsi “Sebulan Peringatan Hari Perempuan”.

Hadirnya 600 perempuan dari berbagai unsur, berkumpul bersama pada hari ini, merupakan upaya untuk melanjutkan perjuangan perempuan di masa kongres yang hingga kini masih belum usai.

Di akhir video, Jaleswari Pramodhawardhani mengucapkan selamat merefleksikan perjuangan pada Kongres Perempuan pertama dan menyusun langkah-langkah untuk melanjutkannya dimana dalam acara ini akan mendialogkan masa depan perempuan Indonesia, bagaimana perjuangan ini berkontribusi mewujudkan keadilan sosial, keadilan gender, penghargaan terhadap keberagaman dan menciptakan keIndonesiaan yang aman, damai dan mensejahterakan semua.

Ucapan selamat juga datang dari Presiden RI Joko Widodo melalui video yang intinya menyampaikan pesan dan apresiasi, di Hari Ibu untuk perempuan Indonesia agar terus memperjuangkan kesetaraan perempuan dan kebhinekaan.

Momen 22 Desember selalu diperingati di Indonesia sebagai “Hari Ibu” mengacu pada keputusan pemerintah yang ditetapkan melalui Perpres nomor 316 tahun 1959.

Penggunaan kata “ibu” dalam hari ibu saat itu diartikan sebagai simbol penghargaan kepada perempuan dewasa, karena ibu dijadikan panggilan pada semua perempuan dewasa bukan tertuju pada status ibu rumah tangga.

Hari Ibu lahir dari peristiwa sejarah pergerakan perempuan, para perempuan mengorganisir diri melalui Kongres Pertama Perempuan tanggal 22 Desember 1928 .

Saat ini merupakan peringatan 90 (sembilan puluh) tahun perjuangan perempuan dari suasana politik penuh tekanan dan penghisapan penjajah konolial dan kungkungan tradisi feodal dan patriarkis.

Dalam masa demikian para perempuan ini mengobarkan pergerakan dengan keberanian yang nyata dalam menuntut hak-hak perempuan, kesetaraan semua lini kehidupan dan nation, ke-Indonesiaan.

Dua eleman kunci perjuangan saat itu yang tetap relevan sampai saat ini adalah perjuangan mewujudkan kesetaraan gender dan ke-Indonesiaan.

Perjuangan untuk kesetaraan perempuan dilakukan dengan mempersatukan kekuatan organisasi-organisasi perempuan.

Untuk bidang pendidikan saat itu adalah memajukan pendidikan pembelajaran bagi perempuan di luar sekolah (non formal) dan pendidikan formal.

Pendidikan formal ditempuh dengan memberi beasiswa pendidikan untuk anak perempuan yang tidak mampu serta mendesak untuk diperbanyak lembaga sekolah untuk anak perempuan.

Perjuangan lainnya adalah penghapusan norma-norma, tradisi kolot yang membatasi, merendahkan dan menyengsarakan perempuan.

Hasil kongres juga menuntut penghapusan perkawinan anak, perkawinan paksa, poligami dan memberikan perlindungan hukum dalam perkawinan.

Hukum perkawinan ini penting karena banyaknya janda dan anak-anak diterlantarkan akibat perceraian semena-mena oleh laki-laki.

Pergerakan perempuan dan nasionalisme seperti yang ditegaskan dalam pidato Siti Soendari, bahwa cita-cita saat itu adalah membangun Indonesia Raya dengan sesungguhnya.

Dalam hal ini perempuan mempunyai kewajiban utama untuk bekerjasama supaya tumpah darah kita menjadi sebuah negara bernasib baik.

Ia juga mengatakan bahwa senang dan sentausa Indonesia Raya jika terbangun rasa saling percaya dan tidak terpecah-pecah. Berbagai pulau berada dalam persaudaraan Indonesia yang seteguh-teguhnya.

Ia berusaha tidak memisahkan antara perjuangan perempuan dan nasionalisme. Ia menegaskan bahwa “negara kita tidak akan selamat kalau hanya separuh bangsa kita mendapatkan kemajuan dan perhatian, selebihnya ditinggalkan dalam jurang kebodohan…”.

Atas perjuangan perempuan pendiri bangsa, kita dapat meraih kemajuan berbagai kemajuan misalnya jumlah perempuan dalam kabinet saat ini ada 9 menteri perempuan.

Perempuan juga dapat mengakses pendidikan sampai perguruan tinggi, di bidang politik perempuan mendapatkan kuota dalam parlemen.

Perlindungan hukum tersedia bagi perempuan seperti UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Pengarusutamaan gender, Perpres SDGs yang didalamnya secara khusus memandatkan kesetaraan gender dan berbagai kemajuan lainnya.

Namun demikian, kemajuan tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh keseluruhan perempuan Indonesia. Masih ada kelompok-kelompok yang tertinggal bahkan sedang dihambat oleh golongan yang menggunakan norma-norma konservatisme, politisasi identitas yang disatukan dengan budaya patriarki.

Menghadapi situasi ini, berbagai pihak penting berkolaborasi untuk mencari jalan keluar menghadapi masalah-masalah perempuan dan meretas tantangan politisasi identitas.

Perjuangan perempuan saat ini membutuhkan kerja bersama, terintegrasi antara kesetaraan gender dan perjuangan untuk mewujudkan kebhinnekaan di Indonesia.

Nilai-nilai pluralisme dan kesetaraan gender mesti menjadi dasar bagi perjuangan perempuan. Bersatu menghapus sekat-sekat identitas apapun merupakan jalan yang mesti dibangun.

Dan momen peringatan kongres perempuan pertama ini dapat menjadi perekat perjuangan perempuan untuk Indonesia yang adil, setara dan damai.

Dalam konteks inilah, Peringatan Hari Ibu – 90 Tahun Kongres Perempuan Pertama di Indonesia ini dilakukan. Partisipan yang hadir sekitar 600 dari perwakilan perempuan dan PKK dari 14 kecamatan di Makasar, kaum muda-milenial (mahasiswa, pelajar, komunitas remaja perkotaan/pedesaan, Forum Anak, para Kepala Dinas Perempuan, Lurah Perempuan, perempuan-perempuan penggerak perubahan (Sekolah Perempuan, Perempuan Penggerak Lorong), Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi, organisasi-organisasi perempuan, organisasi-organisasi perempuan akar rumput, jurnalis, akademisi dan masyarakat umum lainnya.

Dalam pertemuan tersebut akan merefleksikan perjuangan pergerakan perempuan sejak Kongres Perempuan Indonesia Pertama-1928 dan relevansinya sampai saat ini dengan menghadirkan berbagai narasumber diantaranya Institut KAPAL Perempuan (Yusnaningsih Kasim), yang akan berbicara tentang “Perjuangan Perempuan dalam Kongres Perempuan Pertama di Indonesia dan Relevansinya dengan Situasi Saat Ini”

Jaringan Gerakan Perempuan untuk Indonesia BERAGAM Sulsel (Lusy Palulungan), yang akan berbicara tentang “Pentingnya Nilai-Nilai Keadilan Gender dan Penghargaan Terhadap Keberagaman, KeIndonesiaan dalam Perjuangan Perempuan”

YKPM Sulsel (Rosniati), yang akan berbicara tentang “Mengisi Perjuangan Perempuan Melalui Pendidikan Kritis dan Pengorganisasian Sekolah Perempuan Pulau”.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar (Indira Yusuf Ismail), yang akan berbicara tentang ”Agenda Strategis untuk Mewujudkan Kesetaraan Gender di Kota Makassar”

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prov. Sulsel (Suciati Sapta Margani), yang akan berbicara tentang “Strategi Mewujudkan Kesetaraan Gender di Sulsel dalam Pencapaian SDGs”

Selain itu, juga akan ada penuturan perempuan akar rumput yang inspiratif di Sulsel (Lina, nelayan Perempuan Kepulauan Pangkajene) dan Penyerahan Penghargaan kepada 10 perempuan hebat Kota Makassar.(*)

Editor : Salim Majid

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.