Memahami Sesar Penyebab Gempa Bumi Palu dan Mamasa

Mamasa.daulatrakyat.id- Sedikit memahami apa itu sesar yang kerap menyebabkan terjadinya gempa bumi dan tsunami.

Berdasarkan penelusuran daulatrakyat.id dari Wikepedia bahasa Indonesia, menurut ilmu geologi, Sesar ( patahan ) adalah fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan.

Sesar-Sesar berukuran besar di kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik , dengan yang  terbesar membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform. Energi yang dilepaskan menyebabkan gerakan yang cepat pada sesar aktif yang merupakan penyebab utama gempa bumi.

Dalam ilmu geofisika, sesar (Patahan) terjadi ketika batuan mengalami tekanan dan suhu yang rendah sehingga sifatnya menjadi britlle (rapuh).

Dilansir fakta.news (2 Oktober 2018) menyebutkan Pulau Sulawesi merupakan wilayah yang paling kompleks dari segi geologi. Keberadaan tiga lempeng benua, seperti Benua Eurasia (relatif diam), lempeng Pasifik (bergerak ke barat), dan lempeng Australia-Hindia (bergerak utara) membuat Sulawesi sangat rawan gempa.

Selain itu, ada 48 sesar yang bisa menyebabkan gempa kapan saja. Salah satunya adalah sesar palu-koro yang telah melulanlantahkan kota Palu, Donggala dan Sigi pada 29 September 2018 lalu.

Namun sesar lain seperi sesar saddang yang saat ini aktiv dan mengguncang Mamasa Sulbar.

Namun dilansir BMKG wilayah 4 Makassar menyebutkan gempa di Mamasa tidak sama degan daerah lain.

Menurut BMKG gempa di Mamasa tergolong ringan dan tidak menimbulkan dampak yang besar dan tidak berbahaya .

” Sumber gempa adalah pergeseran lempeng bumi sesar lokal (sesar saddang) dan titik gempa tidak satu titik menyebar,” kata BMKG

BMKG menyikapi informasi terkait adanya rongga besar dibawah tanah Mamasa.

Hal itu menurutnya tidak bisa di buktikan tanpa melalui penelitian untuk mengetahui kebenarannya dan info itu adalah hoaks

“Jangan mendengar berita hoaks yg beredar dalam masyarakat,” imbunya.

Dengan demikian, BMKG menghimbau agar seluruh masyarakat kembali ke rumah dan tempat masing masing untuk melaksanakan aktifitas

BMKG menambahkan, gempa mamasa tergolong dalam bentuk parabola yang artinya mulai dari guncangan besar sedang lalu mengecil.

“Namun jarak waktu berakhir belum bisa dipastikan,” tambahnya.

Sumber : Fakta.News

Penulis : Salim Majid

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.