Komunikasi Bermediasi dalam Masyarakat 5.0

Penulis: Irwansyah, Pakar Teknologi Komunikasi Universitas Indonesia, Kepala Litbang Media Indonesia

JEPANG baru saja memperkenalkan terminologi baru dalam tipologi masyarakat, yaitu ‘Society 5.0’ atau dikenal ‘Masyarakat 5.0’. Tipologi kelima ini mewakili bentuk masyarakat ke-5 dalam sejarah manusia yang sebelumnya terdapat masyarakat berburu, bertani, industri, dan informasi. Masyarakat 5.0 merupakan masyarakat cerdas yang berjaringan dalam integrasi teknologi yang supercerdas.

Gagasan ini tidak jauh berbeda ketika Jan van Dijk (1991) memperkenalkan istilah ‘network society’ atau ‘masyarakat berjaringan’. Bahkan, gagasan masyarakat berjaringan telah ada sejak Stein Braten (1981) mengungkapkan istilah ‘nettsamfunn.

Masyarakat berjaringan semakin populer ketika Manuel Castell (2000) menuliskan pentingnya struktur sosial dan aktivitasnya dalam teknologi elektronik yang mampu memproses dan mengelola informasi. Apalagi, muncul logika jaringan bahwa masyarakat mampu memodifikasi kegiatan dan hasil, mulai proses produksi, pengalaman, kekuasaan, dan budaya.

Gagasan masyarakat 5.0 masih berpusat dengan determinannya teknologi (technological determinism). Perubahan gaya hidup dan cara kerja masih dipengaruhi revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 merupakan gagasan Jerman yang memperkenalkan sistem fisik yang siber (cyber physical system).

Sistem ini kelanjutan dari revolusi industri yang mengedepankan mesin uap, listrik, dan otomatisasi. Revolusi industri 4.0 menjadi perdebatan penting ketika Klaus Scwab (2015) melihat perubahan sektor ekonomi, pasar tenaga kerja, produksi, dan inovasi akibat teknologi berbasis siber.

Keadaan ini memaksa segala elemen masyarakat terutama industri dan pembuat kebijakan beradaptasi dengan cepat dalam menyediakan lingkungan yang mendukung, perlindungan, dan kebijakan yang berkelanjutan. Apalagi, revolusi industri 4.0 menciptakan nilai-nilai dan layanan baru dan membawa kehidupan yang lebih bermakna untuk semua.

Masyarakat 5.0 dihadapkan dengan adanya: pertama, pesawat nirawak (drone) untuk mengirimkan barang, menyurvei properti, dan memfasilitasi bantuan bencana di seluruh wilayah. Drone tidak hanya mendukung pekerjaan manusia, tetapi juga menghasilkan harapan dan impian dengan melayang di atas lingkungan kehidupan manusia.

Kedua, peralatan rumah tangga yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dikembangkan dan dijual di seluruh dunia. ‘Kenyamanan’ meningkat ketika peralatan rumah dihubungkan satu sama lain sehingga mendukung kehidupan sehari-hari.

Ketiga, asisten tidak kenal lelah yang selalu hadir memberikan bantuan dalam pengasuhan dan perawatan manusia. Apalagi, masyarakat senior semakin memiliki tingkat harapan hidup yang lebih baik. Kehadiran robot dan bentuk teknologi mutakhir lainnya memberikan solusi dan petunjuk yang lebih baik.

Keempat, meningkatnya peran robot mereduksi kerja keras manusia, apalagi yang masih tergantung dengan cuaca dan tingginya risiko yang terjadi. Teknologi menjadi mitra yang keren dan dapat dipercaya serta siap bekerja dalam kondisi apa pun yang menantang.

Kelima, berbelanja dan bepergian lebih nyaman dengan hadirnya ‘awan’ (cloud). Difusi layanan yang cepat dari ‘awan’ menciptakan pengalaman menyenangkan tidak hanya bagi pengguna, tetapi juga perusahaan kecil, menengah, dan bisnis individu. Penggunaan ‘awan’ memperkecil investasi yang besar dan mengintegrasikan layanan lebih prima.

Keenam, kendaraan otonom menjadi pahlawan baru dalam dunia transportasi dan logistik. Penggunaan kendaraan cerdas telah menyebar dan diterima sebagai bagian yang tidak terpisahkan untuk dimiliki setiap rumah tangga.

Ketujuh, aspek ini memperlihatkan cara manusia berkomunikasi dengan atau dimediasi teknologi (digital dan siber) untuk mencapai tujuannya. Yang perlu disikapi dalam kondisi masyarakat 5.0 ialah kecerdasan manusia dalam membangun jaringan yang memanusiakan kembali interaksi dan komunikasi antarmanusia yang telah termediasi oleh teknologi cerdas ciptaan manusia.

Artinya, gagasan besar masyarakat 5.0 tentang kemampuan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang mentransformasi kumpulan data yang banyak (big data) melalui aplikasi internet (the Internet of Things) sebagai upaya mengakselerasi kemampuan manusia masih terbuka untuk suatu peluang sebagai kearifan baru.

Tidak menutup juga peluang untuk berkembangnya komunikasi termediasi dalam jaringan data dalam internet dengan kecerdasannya sendiri. Apalagi, masyarakat 5.0 merupakan suatu cara untuk memanusiakan kembali manusia dalam mencari makna kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, karakteristik komunikasi yang termediasi dalam sistem jaringan data yang tersimpan dalam ‘awan’ melalui internet yang cerdas menjadi suatu semangat baru dalam menciptakan komunikasi yang bermakna juga.

Komunikasi yang bermakna dalam penggunaan teknologi komunikasi yang supercerdas ditandai dengan adanya kompetensi yang memang harus ada dalam jaringan antara manusia dan teknologi. Kompetensi yang patut diperhatikan ialah kemampuan untuk, pertama, berpartisipasi. Kedua, berbagi pesan. Ketiga, menyampaikan, mendengarkan, dan memahami. Keempat, memaknai antara konten dan konteks. Lalu, kelima, personalisasi. Serta, keenam, mengendalikan manusia lainnya.

Selain itu, komunikasi yang dimediasi teknologi dianggap bermakna ketika manusia menjadikan teknologi cerdas sebagai temannya secara subjektif. Yang harus diwaspadai ialah munculnya ketergantungan dan ketagihan terhadap teknologi supercerdas yang dapat mengamputasi kemampuan dasar manusia itu sendiri.

Dengan demikian, teknologi cerdas tidak lagi semata-mata sebagai subjek, tetapi juga objek yang mengekstensi kemampuan cerdas manusia. Oleh karena itu, diperlukan peran cerdas manusia dalam masyarakat 5.0 yang memilih dan memilah teknologi supercerdas untuk kebajikan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.