Kisah Heroik Sang Perempuan Pemberani dari Tanah Mandar

Polman.daulatrakyat.id- Jelang Hari Pahlawan 10 Nopember 2018, Pejuang perempuan asal Tanah Mandar Andi Depu baru saja di anugrahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Kisah perjuangannya di masa penjajahan merebut Kemerdekaan RI di Tanah Mandar telah di gambarkan oleh Kadis Pariwisata Prov Sulbar Farid Wajdi yang di olah dari berbagai sumber.

Bagaimana kisa heroik sang perempuan pemberani dari Tanah Mandar ini ?.

Balanipa merupakan satu kota kecamatan yang ada di Kabupaten Polman,  Tinambung Pagi hari, tanggal 28 Oktober 1945, sejumlah pasukan tentara Belanda dengan kendaraan militer berhenti, di depan Istana Raja Balanipa, mereka memaksa menurunkan Bendera Merah Putih yang sementara berkibar di halaman Istana kerajaan Balanipa, para prajurit langsung bergegas menuju ke tiang bendera , dan bermaksud menurunkannya, untungnya sebelum prajurit Belanda menyentuh tiangnya para pengawal istana dan masyarakat sekitarnya yang bersenjatakan keris dan tombak beruapaya dengan sekuat tenaga menghalabg halangi prajurit tersebut, rupanya para pengawal istana ini, dipesan oleh H. A Depu, kalau tidak seoranmgpun yang dapat menurunkan bendera ini.

Bersamaan dengan itu, salah seorang pengawal setia istana bergegas memnemui Ibu Depu yang saat itu Baru selesai melaksanakan sholat Dhuhah Ia menmyampaikan bahwa prajurit Belanda ingin menurunkan Bendera merah putih.

Begitu mendengar laporan tersebut Ibu depu beranjak dari temaptnya berlari ke tiang bendera sambal berseru Allahu Akbar, … sambari mendekap erat tiang bendera dan dengan Bahasa Manda beliau menyeru “ lumbangpai batangngu, muliai pai bakkeu anna lumbango bandera “ biarlah saya gugur, mayatku terlangkahi baru bendera kau tumbangkan.

Peristiwa Ibu Depu memeluk tiang bendera, di tengah kepungaan bayonet tentara Belanda, disaksikan oleh seluruh pengawal istana dan masyarakat Tinambung, dan sekonyong konyong tanpa perintah para kawula dan rakyat Balanipa menilisik kepungan pasukan Belanda kemudian berdiri disamping kiri kanan Ibu Depu, mereka bertekad akan menyerahkan nyawanya lebih dahulu kepada Belanda dan memilih tergolek di kaki tiang bendera bersimbah darah perlawanan, sekiranya belanda masih nekad menurunkannya di tengah dekapan Ibu Depu, bahkan mereka dengan lantang bersumpah “ inditia batuanna Maraqdia melo mimbere dibaona litaq basepa anna tada mating diolona Maraqsdia inilah pengawal setia Raja Balanipa rela mati bermandi darah langkahi dulu mayatku baru engkau menyentuh Maraqdsia Ibu Depu”

Semakin lama semakin banyak masyarakat yang berdatangan dari berbagai arah lengkap dengan senajata yang beragam, keris , tombak badik dsb dan tidak terasa Belanda dalam kepungan masyarakat Balanipa, tekadnya hanya satu kata pertahankan bendera yang di dekap oleh maraqdia, “ naposiri Maraqdia napomaste batua, setets darah yang keluar dari kulit Ibu Depu, maka apapun resikonya pasukan Belanda harus pulang dengan bangkai yang tercabik cabik.

Tekad bulat masyarakat Balanipa ini, menciutkan nyali pasukan belanda untuk menurunkan bendera tersebut, dan dengan penuh kekesalan mereka meninggalkan tempat itu, sambil tetap menyaksikan bendera merah putih mnasih berkibar kibar di halaman istana kerasjkaan Balanipa di Tinambung.(*)

Hajja Andi Depu

Berikut inilah sederet penghargaan yang diberkan oleh Pemerintah RI kepada Andi Depu diantaranya Bintang Mahaputera IV dari Presiden Sokarno

a Penghargaan Andi depu Bintang Mahaputer IV yang diserahkan langsung oleh Bung Karno Presiden RI pertama pada tahun 1965 di Makassar sekitar Tahun 1964.
Bintang Gerilya sebagai Panglima Keris Muda Mandar , 1958
Satya Lencana peristiwa perang kemerdekaan kesatu
Satya lencana Gerakan Operasi Militer III
Satya Lencana Gerakan Operasi Militer IV
Satya Lencana Peringatan Perjuanagan Kemerdekaaan
Surat Penghargaan Panglima Kelaskaran Keris Muda
Satya Lencana Bhakti
Warga Kehormatan Kota Makassar.

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.