Jerat hukum sang penganut kebebasan

Ciri-ciri negara demokrasi dengan dibukanya kran kebebasan berpendapat di ruang publik saking bebasnya orang bisa tersenyum kemana-mana orang bisa foto di mana-mana dan menggambar alam Sungai Gunung dan Laut, bahkantersenyum kepada tiang listrik tidak dilarang orang gelandangan di pinggir jalan seenak-enaknya meminta-minta keluar masuk rumah tetangga dengan dalih minta sumbangan, bebas tak ada yang melarang. Begitu bebasnya pengemis seakan negara tak sanggup memelihara sebab tidak dipelihara saja masih banyak.

Bagaimana kalau dipelihara karenanya negara demokrasi tak selamanya demokratis negara-negara maju demokrasinya juga masih setengah hati.

Tak mesti harus bebas sebebas-bebasnya asumsi bebas jangan sampai berkonotasi sesuka hati saya mau gue kata orang Jakarta. Jadi kebebasan gelandangan dan penikmat selfie atau pelukis tentu berbeda porsinya meski sama-sama bebas jika konten tulisan di medsos keluar dari kontes kebebasan yang bertanggung jawab. Maka jeratan hukum menanti kritikan terhadap penguasa harus mampu sipetakan antara kritik dan hujatan. Disanalah kebebasan diawasi. Kebebasan yang tak bebas.

Sebab itu pelukis tak boleh lagi melukis bebas. Gelandangan tak boleh lagi miskin di negeri sendiri. Jerat hukum para penganut kebebasan telah menanti.

Indonesia bukan lagi surga bagi penikmat kebebasan. Demokrasi boleh tumbuh tapi patuh pada hukum begitulah potret demokrasi di negeri kita.

Negeri yang kadang alergi terhadap kritik kritik pedas. Negeri yang begitu banyak orang cerdas yang mengkritik. Negeri yang begitu banyak lalu lintas kepentingan. Begitu banyak kemiskinan yang tak terurus. Korupsi yang sistematis.

Namun hamparan inspirasi lahir dari tangan penganut kebahasaan. Pelukis dan penganut kebebaaan hanya mampu menatap hamparan alam yang gemah ripah lo jinawi

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.