Insitut Kapal Perempuan Misiya : Membaca Masa Lalu dan Menulis Masa Depan

Mataram.daulatrakyat.id-Dalam peluncuran gerakan kepemimpinan perempuan yang responsif gender dan Peringatan Hari Anak Nasional di Mataram,  Direktur Insitut Kapal Perempuan Misiya menyampaikan sambutannya didepan Menteri KPP dan PA Yohana Susana Y.

Berikut sambutan singkat Direktur Insitut Kapal Perempuam Misiya.

Perkenankan saya menyampaikan sambutan singkat sekaligus apresiasi atas nama Institut KAPAL Perempuan dan LPSDM dalam program MAMPU saat ini memamasuki tahun ke-5 (lima) bekerjasama di kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur. Melalui wadah belajar Sekolah Perempuan, dilakukan proses pemberdayaan perempuan di desa-desa wilayah terpencil dan menginisiasi Musrenbang Perempuan.

Disamping Sekolah Perempuan juga dikembangkan Balai Perempuan oleh KPI, Serikat PEKKA, Desbumi oleh Migrant CARE dan Balai Asyiyah. Pengalaman melakukan pemberdayaan perempuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan merupakan kunci keberhasilan pembangunan. Oleh karena itu, pengalaman ini kemudian dikembangkan menjadi strategi dalam pencapaian SDGs.

Hari ini merupakan sebuah momen penuh harapan dan semangat untuk terus melakukan perubahan. Kehadiran ibu Menteri memiliki arti penting, ibu Menteri adalah saksi sejarah dalam sidang PBB pengesahan SDGs di New York tahun 2015. Besar artinya untuk kita dalam mengawal SDGs khususnya SDGs yang responsive gender karena KPP-PA merupakan leading sector untuk pengarusutamaan gender di 17 tujuan atau 4 pilar SDGs di Indonesia. Kita berkumpul dari berbagai kalangan, dari ujung desa pegunungan dan pesisir, masyarakat dan para pejabat pemerintah nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Hadir juga jaringan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Anak-anak, remaja dan dewasa, sebagian besar perempuan memenuhi ruangan dan halaman Gedung ini.

Insitut Kapal Perempuan Saat Menghadiri Gerakan Kepemimpinan Perempuan di Mataram (dok:dr)

Bersama-sama berkumpul dengan MEMBACA MASA LALU DAN MENULIS MASA DEPAN.

Kita rembug bagaimana tahun 2030 kita bebas dari kemiskinan, bebas dari kelaparan, kita sehat, mendapat pendidikan layak, hidup dalam keadilan dan kesetaraan gender, aman, sejahtera dan damai. Seluruh harapan ini, secara jelas ada di seluruh jaminan hukum Indonesia dan yang terbaru adalah komitmen Indonesia atas kesepakatan Internasional yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs.

Bapak Presiden Republik Indonesia menegaskan bahwa SDGs adalah gerakan, oleh karena itu SDGs mesti dibumikan dari tingkat dunia sampai di desa, melibatkan dan memberi manfaat kepada semua terutama kelompok rentan diantaranya perempuan dan kelompok marginal lainnya. Pengalaman, pembelajaran dan semangat inilah yang mendorong kami mengembangkan sebuah gerakan bersama dari berbagai pemangku kepentingan yaitu “Gerakan Kepemimpinan Perempuan dalam Pencapaian SDGs yang responsive gender, inklusif dan transformatif”.

Selamat memasuki Satu Tahun Peraturan Presiden RI No.59/2017 tentang Pelaksanaan dan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau TPB atau SDGs, Selamat Memperingati Hari Anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Selamat untuk prestasi yang baru saja diraih oleh pemerintah kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara. Sebuah prinsip yang sangat bermakna dalam dan tajam dalam SDGs yaitu No One Left Behind “Tak Seorangpun Boleh ditinggalkan”. SDGs menjadi roh perubahan kita, untuk:

Menghitung dari yang selama ini tak dihitung,
Membuat nyata bagi yang selama ini tersembunyi,
Menatap pada yang selama ini dipunggungi,
Memberi ruang bagi yang biasa tersingkir,
Mengangkat suara untuk yang selama ini terdiam.

Editor : Salim Majid

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.