Ini Kata Prof Adi Suryadi Culla Terkait Faktor Kemenangan Kotak Kosong (KOKO) di Pilwalkot Makassar

Makassar.daulatrakyat.id.Kemenangan Kotak Kosong alias KOKO di Makassar lawan pasangan calon tunggal Munafri Arifuddin dan Andi Rahmatika Dewi atau Appi – Cicu merupakan sejarah pertama di Makassar.

Dari pantauan penulis sejumlah masyarakat yang tadinya enggan memilih alias golput jadi bersemangat memilih.Tak dapat dipungkiri kecerdasan masyarakat dan kritisnya mereka dengan situasi dan kondisi politik saat ini menjadi pembelajaran bagi tim Appi -Cicu yang notabene diusung 10 partai politik namun tetap keok dan harus tunduk pada kekuatan suara rakyat alias kotak kosong.

Dihubungi via selulernya pengamat politik Prof Adi Suryadi Culla mengatakan jika dirinya sudah melakukan komunikasi bersama komisioner KPU pagi tadi yang menyatakan hasil real count tak jauh beda dengan quick count sejumlah lembaga survei yang telah bekerjasama dengan KPUD Sulsel.

Hasil suara yang masuk hingga kini baru sekira 71 persen dengan hasil yang tak jauh beda dengan quick count.

Masyarakat sudah rasional,kritis,dan mereka melihat calon tunggal lawan kotak kosong adalah sistem demokrasi yang tidak adil.

Apalagi sebelumnya kata Prof Adi sejumlah pemberitaan yang memojokkan DP berimbas pada diskualifikasi pencalonan pasangan Danni-Indira (DIAmi) pastinya memunculkan simpati masyarakat pada walikota petahana Danni Pomanto.

“Saya kira perilaku emosional tim Appi Cicu menunjukkan ketidak pedean melawan DIAmi faktor kedua mengapa suara rakyat alias Koko menjadi pilihan
karena masih banyak masyarakat yang menyukai kepemimpinan DP dimana
banyak yang kecewa jagoan mereka Danni Pomanto didiskualifikasi dari bursa pilwalkot,”ujarnya.

Ia berharap kedepannya pilkada harus memperbaiki sistem.Untuk kasus pilkada Makassar ini parpol tidak berpengaruh daripada suara masyarakat.Ketidak percayaan masyarakat terhadap koalisi gemuk parpol menjadi tamparan dan pembelajaran.

Parpol tidak berdaya menghadapi suara rakyat,fungsi parpol tidak berjalan dan imeg paslon tunggal sebagai pengusaha yang tidak memprediksi dari awal jika ada sikap masyarakat yang muncul jika nekad melawan kotak kosong.

“Jadi pada dasarnya tim Appi Cicu salah prediksi dan meremehkan suara rakyat.Ini tamparan keras bagi parpol dan sejumlah penyelenggara maupun paslon untuk cermat membaca situasi dan kondisi masyarakat kita,”pungkasnya.

Penulis : Nina Annisa

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.