HPN dan Tantangan Pers di Tahun Politik

Oleh : Mursalim Majid ( Wakil Ketua PWI Sulbar)

Perkembangan  jurnalisme kian pesat. Pers yang tumbuh dan terus berkembang seiring dengan berkembangnya pradaban manusia.

Dunia jurnalistik seperti mengarungi samudra yang luas tanpa batas. Intraksi sosial yang terus berdenyut di dunia maya. Saling memberi informasi satu sama lain. Seakan jurnalisme bukan hanya milik pers lagi.

Istilah tersebut kerap disebut citizen jurnalisme. Artinya publik bisa menjadi pewarta dan memberi informasi diruang-ruang publik dengan menggunakan medium, seperti twiter, FB , Watsahap dan lainnya.

Informasi berselancar di medsos. Begitu cepat, membangun kesadaran bahwa cara konvensional akan segera berakhir diujung digital.

Betulkah media digital akan membunuh media konvensional?

Dikutip dari Bisnis.com Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia mengungkapkan kasus tutupnya sejumlah media cetak tidak bisa disimpulkan sebagai akibat kehadiran media digital.

Nielsen menyebutnya banyak faktor yang mempengaruhi misalnya nilai tukar mata uang media franchise dan kemampuan media konvensional beradaptasi dengan tehnologi.

Namun Nielson menegaskan tak ada satu media membunuh media lainnya. Yang ada menurutnya adalah media baru akan masuk ke dalam ekositem media yang sudah ada.

Asumsi Nilsen sudah mulai di pratekkan dalam media konvensional. Misalnya media-media konvensional telah beradaptasi dalam ruang digital.

Media digital mulai diperaktekkan oleh jurnalis yang selama ini berkutak-katik diareal konvensional.

Munculnya com-com meminjam bahasa Dahlan Iskan membuktikan media konvensional akan mencoba berlari mengikuti jejak digital agar tak kehilangan pasar.

UJIAN PERS DI TAHUN POLITIK

Tahun politik menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pers. Tantangan terbesar pers adalah mempertahankan independensinya.

Dunia jurnalistik tak lepas dari satu kepentingan. Intervensi internal dan eksternal satu godaan terbesar pers.

Posisi pers dituntut membangun trus publik agar publik bisa mempercayai setiap produk pers.

Keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan publik menjadi keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar.

Posisi pers yang sangat penting di tengah gulatan demokrasi sejatinya hadir memberi pencerahan, ilmu pengetahuan dan mencerdaskan publik. Bukan sebaliknya menjadi kepentingan tertentu yang bisa merusak citra pers.

Memiliki tangungjawab besar dalam membangun kualitas demokrasi. Sebab itu profesionalisme dan integritas harus terus dijaga.

Fungsi lainnya adalah mengawasi agar proses demokrasi berjalan baik, demokratis dan damai.

Memberi informasi yang benar, akurat dan selalu menguji setiap informasi untuk menjadi produk berita.

Pers harus memastikan informasi yang diterima tidak distorsi. Sebab distorsi informasi akan berdampak pada kehidupan sosial.

Oleh karena itu, membangun demokrasi yang berkualitas tak semuda membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan semua pihak untuk bersama-sama dengan tujuan yang sama yaitu melahirkan demokrasi atau pemilu yang bermartabat dan damai.

Melawan bentuk-bentuk informasi seperti hoax yang terus menggelayut di ruang medsos. Publik harus diberi pemahaman mana informasi yang benar dan tidak, mana produk berita dan bukan.

Dalam studi Nielsen seperti di lansir kompas.com menyebutkan Genarasi Z kisaran usia 10-19 mencapai 97 % masih nonton TV. 50% mengakses internet, 33% mendengarkan radio, 7 % menonton TV berbayar dan 4 % membaca koran.

Artinya apa generasi dengan kisaran usia milineal itu sangat rentan ketika masuk kedunia maya.

Mereka bebas menjelajahi dunia informasi dari berbagai belahan dunia tanpa batas.

Dari dunia maya mereka akan merekontruksi informasi itu kedalam dunia nyata. Konsekuensinya akan berdampak pada gaya hidup, lingkungan sosial dan interaksi sosial dalam kehidupan sosial mereka.

Apakah informasi yang diterimanya itu positif atau negativ. Itu akan tercermin dari prilaku sehari-hari.

JELANG HARI PERS NASIONAL

Hari Pers Nasional yang akan didegelar pada februari mendatang di Surabaya diharapkan mampu menjawab tantangan pers kedepan.

Sejak lahirnya Pers Indonesia. Perkembangan dunia digital, diharapkan pers terus membangun kualitas dirinya untuk menghadapi tantangan pers yang makin kompleks.

Kompetensi wartawan merupakan hal yang urgen dalam membenahi dunia pers kita.

Era kompetetif ini tak lagi segedar klaim profesi. Profesi ini sangat longgar, begitu mudahnya orang menjadi wartawan. Ironisnya tiba-tiba menjadi pimpinan redaksi.

Sebab itu, sertifikasi wartawan adalah satu bentuk pengakuan Negara atas profesi tersebut. Sama halnya ketika kita menyetir( membawa) kendaraan tentu dibutuhkan SIM.

Dengan demikian moment Hari Pers Nasional sebagai refleksi atas eksistensi Pers dan pencapaian pers yang mampu memberi kontribusi besar dalam kemajuan Bangsa dan Negara.

Pers memiliki peran yang sangat besar mulai era perjuangan hingga sekarang.

Karena itu, pers dituntut untuk terus membenahi kehidupan pers yang berintegritas dan bermartabat.

Menjaga marwah pers menjadi hal yang sangat penting. Juga membangun SDM para jurnalistik tak kalah pentingnya.

Semoga di Hari Pers Nasional ini, pers nasional tetap jaya. Selamat Hari Pers Nasional.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.