Hasil temuan KPAI, Siswa di Bali meninggal akibat kelelahan saat MPLS

 

Bali.daulatrakyat.id-Hasil temuan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) yang melakukan pengawasan langsung atas kasus dugaan kekerasan saat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) di salah satu SMA di Bali. Di duga anak mengalami kelelahan akibat kelelahan luar biasa selama mengikuti MPLS.

Diperoleh penjelasan bahwa ananda pada MPLS hari terakhir meminta dibangunkan orangtuanya pukul 02.00 wita untuk menyelesaikan tugas membuat puisi. Saat dibangunkan itulah, kondisi kesehatan ananda drop dan sempat mengalami kejang-kejang. Pihak keluarga mengakui bahwa ananda memang mengalami kelelahan luar biasa selama mengikuti MPLS.

“Kekerasan tidak selalu hukuman fisik, namun memberikan tugas-tugas diluar batas kemampuan seorang anak juga merupakan bentuk kekerasan yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan psikis (ketakutan dihukum serta ketakutan dinilai tak pantas menjadi anak unggulan) dan dapat dikategorikan sebagai kekerasan fisik (anak kelelahan menulis tangan berlembar-lembar double folio), sehingga jam tidur dan istirahat anak terganggu. Karena tidak semua anak memiliki ketahanan tubuh dan kekuatan yang sama dalam mengelola stress, maka kegiatan MPLS ini diduga kuat menyebabkan seorang siswi meninggal dunia,” urai Retno selaku Komisioner KPAI Bidang Pendidikan.

Dari kasus ini kemudian KPAI melakukan rapat koordinasi dengan pemerintah provinsi Bali dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait, termasuk perwakilan sekolah yang bersangkutan, di kantor Gubenur Bali. Rapat koordinasi dipimpin langsung oleh Asisten Gubenur Bidang Pemerintahan dan Kesra, IB Kade Subhiksu.

Dalam rapat koordinasi tersebut, hampir seluruh pihak yang hadir bersikap sangat kooperatif dan mendukung pengungkapan kasus yang sedang diawasi KPAI.

“Sayangnya, Kepala sekolah tidak hadir karena sedang mengikuti pertukaran kepala sekolah yang merupakan program Kemdikbud. Kepala Dinas Pendidikan juga tidak hadir dan diwakili oleh Kepala Bidang SMA, namun disayangkan ybs kurang memahami permasalahan dan cenderung defensive seperti pihak sekolah,” ujar Retno Listyarti

KPAI juga sudah bertemu dan berdialog langsung dengan Gubenur Bali terpilih periode 2018-2023, I Wayan Koster, untuk menyampaikan hasil pengawasan KPAI dan KPPAD Provinsi Bali terkait kasus kekerasan di MPLS, agar kedepannya ada pembenahan dan evaluasi system di dunia pendidikan Bali agar mengedepankan perlindungan anak.

KPAI dan KPPAD Bali mengapresiasi sambutan hangat dan respon positif dari Gubenur Bali terpilih,I Wayan Koster dalam kasus ini, bahkan beliau menyampaikan kesediaannya menjalankan rekomendasi KPAI dari hasil pengawasan. Selain itu, KPAI dan KPPAD Bali kedepannya juga akan terus memberikan masukan kepada Gubenur Bali terkait upaya-upaya penyelenggaraan perlindungan anak di Bali.

“KPAI menilai I Wayan Koster memiliki perfektif perlindungan anak, sehingga ada harapan kebijakannya kelak terutama di pendidikan akan berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak,”pungkas Retno

KPAI juga mendorong pihak Inspektorat Provinsi Bali melakukan pembinaan kepada jajaran sekolah yang bersangkutan dan Dinas Pendidikan Provinsi Bali terkait kasus meninggalnya siswi di salah satu SMA di Bali. KPAI juga mendukung rencana inpektorat melakukan monev MPLS di berbagai sekolah setiap tahunnya bersama OPD terkait di provinsi Bali. Inspektorat provinsi Bali juga melakukan investigasi terhadap kasus ini dan membenarkan beratnya tugas-tugas yang diberikan panitia MPLS di sekolah ananda korban. Namun, inspektorat mengaku belum meminta keterangan dari keluarga korban.

KPAI mendorong inspektorat Provinsi Bali menyelesaikan pemeriksaannya dan dapat menegakan aturan melalui pembinaan terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan kelalaian sehingga ada efek jera kepada pihak sekolah dan menjadi pembelajaran sekolah-sekolah lain untuk menyelenggaraan MPLS dengan gembira dan ramah anak. Pihak Dinas Pendidikan Provinsi Bali juga harus mendapatkan pembinaan agar memiliki perhatian dan pengawasan lebih seksama saat MPLS di wilayah kewenangannya.

Selanjutnya dari hasil pengawasan, KPAI akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) serta Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk memastikan penyelenggaraan perlindungan anak di sekolah-sekolah. Lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik, program sekolah ramah anak (SRA) perlu terus digalakan. (Rls)

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.