Catatan Kelam Konflik Agraria di Ujung Utara Sulbar

Pasangkayu.daulatrakyat.id – Catatan kelam konflik agraria di ujung utara, Pasangkayu Sulbar ini seakan tak pernah ada habisnya.

Perusahaan yang bergerak di perkebunan sawit mulai merambah masuk ke wilayah lahan milik warga setempat. Atas nama HGU dalil hukum itu membuat warga Lariang tak berdaya.

Kendati tanah miliknya itu dikabarkan memiliki sertifikat. Wargapun mulai hilang kesabaran.

Mereka mendatangi kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Pasangkayu untuk meminta kejelasan dari kepala BPN.

Menurut mereka 70% wilayah Desa Lariang masuk dalam Hak Guna Usaha (HGU) PT Letawa.

Hal itulah yang membuat warga merasa resah dan was-was. Betapa tidak, lahan yang digarap selama bertahun – tahun tersebut, bahkan sudah ada yang disertifikatkan tiba-tiba diklaim sebagai areal HGU.

Kepala Kantor BPN Pasangkayu Budi Doyo mengatakan, pihaknya telah menerima surat dari Kepala Desa Lariang yang meminta agar pihak BPN mempertemukan dengan pihak managemen PT Letawa dengan warga.

“Karena sibuk permintaan itu molor, sehingga minggu depan warga dan pihak perusahan akan dipertemukan,” terangnya.

Ia pun meminta kepada warga untuk melengkapi berkas atau foto copy tanda bukti kepemelikan lahan, untuk kemudian dilaporkan dan diteliti.

Salah satu warga Lariang Abd Rajad Yasim mengatakan, dirinya hanya meminta kepada kepala BPN agar warga difasilitasi dalam pertemuan dengan pihak perusahan PT. Letawa.

Karena menurutnya, selama ini warga merasa resah dengan adanya klaim sepihak wilayah HGU yang selama ini dikelolah .

“Ini yang mau dibicarakan karena lahan itu sudah ada yang bersertifikat tiba – tiba diklaim sebagi HGU,” kata Rajad

Belum ada penjelasan dari pihak PT letawa, melalui CDO mencoba dihubungi terkait masalah tersebut belum ada balasan.

Penulis : Joni Banne Tonapa
Editor    : Salim Majid

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.