BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Triwulan III 2018

Makassar.daulatrakyat.id.Perekonomian Sulsel diperkirakan tetap tumbuh kuat didukung oleh optimisme masyarakat.

Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan bahwa optimisme konsumen pada September 2018 meningkat.

“Hal ini dapat kita lihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2018 sebesar 141,4, lebih tinggi dari 138,1 pada Agustus 2018. Peningkatan optimisme konsumen pada September 2018 tersebut terjadi baik terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun 6 bulan yang akan datang,”ujar  Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Selatan Bambang Kusmiarso

Dikatakan Bambang hal tersebut tercermin dari meningkatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) ke level 136,7 dari bulan sebelumnya 130,7 dan Indeks Ekspektasi Konsumsen (IEK) ke level 146,2 dari bulan sebelumnya 145,5.

Meningkatnya optimisme konsumen tersebut diakui Bambang karena didorong ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja.

Perkembangan Harga pada September 2018 Sulsel mengalami deflasi yang cukup signifikan. IHK Sulsel pada September 2018 tercatat deflasi -0,86% (mtm) lebih dalam dari bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar -0,10% (mtm).

Deflasi tersebut juga lebih dalam dari Nasional (-0,18%, mtm) dan merupakan yang terendah ketiga setelah Sulteng (-1,22%; mtm) dan Papua Barat (-0,89%, mtm), namun kota Parepare (-1,59%; mtm) menjadi kota dengan deflasi terdalam se-Indonesia.

Adapun Deflasi bulan September 2018 yang lebih dalam dari polanya (rata-rata 5 tahun terakhir) terutama didorong oleh deflasi kelompok bahan makanan.

Deflasi kelompok bahan makanan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan komoditas pangan yang lebih dalam dari sebelumnya yaitu Cabai Rawit, Tomat Buah, Tomat Sayur, Cakalang, Teri, Daging Ayam Ras dan Bayam, dan penurunan harga komoditas yang periode sebelumnya mengalami kenaikan seperti Bandeng, Cabai Merah dan Beras .

Tekanan inflasi Tahunan Sulsel menurun dan berada dalam sasaran inflasi 3,5%±1%. Secara tahunan pada September 2018 tekanan inflasi Sulsel tetap terkendali, tercatat sebesar 3,09% (yoy) lebih rendah dibandingkan tekanan inflasi tahunan bulan sebelumnya (3,92%, yoy).

Penurunan tersebut terutama terjadi pada kelompok bahan makanan dari 7,25% (yoy) pada Agustus 2018 menjadi 5,42% (yoy) pada Sept 2018. Bahkan inflasi tahunan tersebut, lebih rendah dari rata-rata 5 tahun terakhir yang tercatat sebesar 4,48% (yoy), bahkan masih berada dalam target sasaran (3,5±1%).

“Capaian tersebut sejalan dengan semakin kuatnya peran TPID, komitmen Pemda, dan koordinasi yang semakin intensif dalam pengendalian inflasi baik dilevel teknis maupun kepala daerah ditingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota,”tambah Bambang.

Namun demikian, terdapat beberapa komoditas yang perlu diwaspadai hingga akhir tahun yang secara historis menunjukkan peningkatan harga antara lain cabai, daging & telur ayam ras, beras, ikan bandeng, ikan teri, ikan laying, bawang merah, tomat, kangkung, dan ikan cakalang. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan upaya stabilisasi harga yang akan terus diperkuat terutama untuk pengendalian kelompok bahan makanan.

Adapun upaya yang akan dilakukan oleh TPID bersama dengan Pemerintah Daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi ekspektasi melalui beberapa langkah antara lain mendorong kerjasama antar daerah untuk pemenuhan pasokan dan stabilisasi harga khususnya untuk komoditas perikanan dan hortikultura,mendorong percepatan dan efektivitas pasar induk beras di Parepare.

Selanjutnya BI dan pihak terkait melakukan monitoring secara lebih intensif termasuk menyiapkan langkah-langkah pengendalian terhadap ketersediaan pasokan barang-barang yang secara historis menunjukkan kenaikan di akhir tahun oleh unit kerja terkait,”jelasnya.

Selain itu kata dia perlu peningkatan produktivitas dan kelancaran distribusi ikan bandeng untuk pemenuhan kebutuhan dan kestabilan harga di akhir tahun.

“Saya kira langkah diatas dan adanya upaya penguatan Badan Usaha Lorong / Lorong Peduli Inflasi berfungsi untuk menjaga ketahanan pangan dengan perluasan gerakan tanam cabai, tomat, kangkung dan bawang merah,”terang Bambang.

Sekedar diketahui Inflasi Sulsel pada tahun 2018 diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran yang ditetapkan 3,5±1%.

 

 

Penulis : Nina Annisa

Tinggalkan Balasan

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.