Goresan Tangan di Langit Palu

Catatan Menapaki Waktu dari Masa ke Masa.

Oleh : Mursalim Majid ( Wartawan/ Wakil Ketua PWI Sulbar)

Jumat, 28 September 2018 jelang suara adzan magrib menggema di langit donggala dan palu. Suara guncangan berkekuatan 7,6 mignitude begitu dahsyat menebar ketakutan ke seluruh penjuru kota.

Pantai Talise palu dan donggala lululanta diterjang gelombang sunami dan likuifaksi telah menelan ribuan rumah dan orang.

Peristiwa gempa bumi dan sunami di Sulawesi Tengah itu, setahun lebih telah berlalu. Menembus malam dan siang bersama Husni Kardi Jurnalis TV One dan wartawan kantor berita Antara Amiruddin.

Susulan goncangan masih terasa ketika saya dan teman wartwan berada di ujung utara Sulbar Kabupaten Pasangkayu.

Peristiwa demi peristiwa mulai menyeruak ruang – ruang publik. Siang itu, pinggir pantai Donggola hanya tersisa puing – puing bangunan.

Rumah – rumah penduduk rata dengan tanah. Sebagian ditelan gelombang sunami. Warga pun hanya bisa menatap rumah – rumah mereka. Sebagian mengumpulkan sisa – sisa bangunan yang berserakan.

Diujung pasar lama donggola dekat gudang kopra. Rumah – rumah kontrakan itu tak nampak lagi, lenyap ditelan pusaran gelompang laut yang begitu dahsyat.

Ditempat itu, puluhan mayat ditemukan terapung. Kesaksian itu diungkapkan warga setempat.

Hingga kami tiba, masih terlihat warga berusaha menyelam dengan menggunakan alat kompresor untuk mencari jasad yang diduga masih ada didalam laut.

Disepanjang jalan trans Donggala – Palu ribuan pengungsi ditenda – tenda pengungsian. Mereka menahan setiap mobil yang lewat dan meminta sumbangan untuk kebutuhan para pengungsi.

Mereka kekurangan pasokan makanan dan minuman. Padahal, kasak mata ratusan mobil truk pengangkut bantuan melintas. Tapi jarang singgah. Akibatnya penjarahanpun tak terhindarkan lagi. Bahkan logistik bantuan milik pemprov sulbar ikut terjarah.

Kejadian itu, Logistik bantuan mulai dikawal para aparat keamanan. Baik mobil tanki pengangkut logistik BBM tak luput pula dari pengawalan polisi.

Bersama Sahabat Rakyat Menembus Malam di Kota Palu

Disepanjang jalan bibir pantai menuju kota palu, malam mulai turun, terlihat sisa – sisa rumah penduduk yang tersapu gelombang sunami. Meski listrik padam. Masih terlihat jelas.

Rongsokan mobil bertumpuk dimana-mana ibarat kota mati yang baru saja dilanda perang. Wajah kota palu begitu mencekam.

Rombongan sahabat rakyat, tiba di kota palu. Menelusuri jalan – jalan kota yang nampak lengang. Bayangan gedung yang terlihat dalam gegelapan malam.

Bercampur bau amis seperti sisa -sisa mayat yang masih ada direruntuhan bangunan. Masker pun mulai menempel dimulut untuk menangkal bau tak sedap itu.

Tidur diluar gedung didalam tenda kecil dengan kapaditas1, 2 orang . Bersama sang kordinator Sahabat Rakyat Muliyadi Prayitno dan kawan – kawan relawan.

Sesekali gempa susulan masih terasa. Seperti tak mengenal waktu, kapan saja dia mau. Subuh, pagi,siang dan malam terus awas dalam awas.

Ratusan relawan dari berbagai daerah berdatangan untuk membantu para korban gempa dan sunami.

Sisa – sisa mayat yang masih tertimbun direruntuhan bangunan hotel roa – roa. Nampak alat berat membersihkan puing – puing bangunan itu.

Pagi buta terbangun bersama rombongan sahabat rakyat menuju rujab wakil walikota palu. Menunggu pak Menteri Pertanian Amran Sulaeman yang datang ke Palu menyerahkan bantuan korban gempa dan sunami.

Beberap jam kemudian, Amran Sulaeman tiba di palu dan diterima markas koramil kota palu.

Ditengah kerumunan para korban pengungsi ditanah lapang. Samping rujab wakil walikota palu. Meski sang Wakil Wali kota tak sempat hadir karena masih istirahat, mungkin Ia lagi kecapean.

Tapi Pak Mentan Amran Sulaeman tetap menyerahkan bantuan kepada seorang bocah kecil sembari pak Mentan menjoss sang bocah itu.

Dua hari dua malam di kota yang baru saja dilanda bencana alam. Jalan – jalan yang terbelah, lumpur yang keluar dari perut bumi dan pusat bisnis ramayana di kota Palu ambruk. Jembatan kuning di pantai talise. Ikon kota palu ini harus meradang tercebur kelaut dan rangka – rangka jembatan yang masih tersisa mencium laut.

Cerita pilu dari Rosmini, seorang warga yang selamat dari terjangan lumpur petobo bersama dua orang sang buah hatinya. Kisah – kisah korban gempa dan sunami. Serta suka duka dalam meliput satu peristiwa bencana dahsyat sepanjang sejarah sejak menggeluti dunia wartawan, merupakan pengalaman yang tak terlupakan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.