Erwin Kallo Optimis Jadikan Industri Perfilman Sebagai Icon Makassar

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.ID.Selaku Advokat alias pengacara dan seniman Erwin Kallo sukses membuat film dengan judul Lawyers Pokrol Bambu dibintangi para pemain senior seperti Rina Hassim,Dicky Chandra,Jefry Jefroi dan Roy Marthen serta Erwin Kallo sendiri.

Film yang menceritakan suka duka hidup dan segala resikonya berprofesi sebagai seorang pengacara alias lawyers yang bekerja menangani kasus kriminal hingga kasus perceraian kliennya.

“Lewat film ini saya ingin membangkitkan ekonomi kreatif di industri perfilman yang kurang dilirik pemerintah Makassar selama ini,”ujar Ketua Dewan Kesenian Makassar tersebut.

Erwin Kallo berencana menggaungkan karya anak Makassar lewat film yang sudah terkenal sejak era 70 an Makassar sudah memperlihatkan tajinya dikancah perfilman nasional.

Erwin sendiri diketahui telah berkecimpung didunia perfilman sejak masih belia dan telah sukses membintangi beberapa film ditanah air.

Dikatakan Erwin ia miris melihat even F8 yang sudah menjadi agenda nasional namun isinya terkesan tidak menjual icon Makassar.
Sebut misalnya Fashion itu kurang tepat karena sudah ada Bandung yang menjadi kiblatnya fashion di Indonesia.Sedang Pariwisata sudah ada Bali dan Lombok yang menjadi surganya pariwisata di Indonesia.

“Saya kira Makassar lebih tepatnya fokus menjual kuliner dan Film.Jika kita besarkan dua icon tersebut maka Makassar akan menjadi surga kuliner dan perfilman di Indonesia selain Jakarta yang merupakan pusat industri perfilman.F8 terlalu boros dengan tampilan yang begitu banyak.Harusnya seni,budaya dan kuliner serta objek-objek wisata Makassar lainnya lebih ditonjolkan lewat film dari situ dunia akan melihat keindahan dan keragaman budaya dan adat istiadat Sulawesi Selatan,”sebut Erwin Kallo.

Didepan para jurnalis Makassar di redaksi Harian Fajar Gedung Graha Pena Makassar para pemain Lawyers mengaku senang bisa diajak main pada film yang bergenre drama komedi tersebut.

Dicky Chandra yang pernah berkecimpung didunia politik mengaku lebih enjoy didunia seni yang merupaka titik awal dimana dia pertama kali dikenal masyarakat Indonesia.

“Alhamdulillah saya pernah menjabat sebagai wakil bupati Garut yah tentunya ada suka dukanya juga namun saya merasakan sendiri dunia seni yang membesarkan nama saya jauh lebih membuat hidup dan hati saya tenang dan enjoy,”ujar Dicky yang banyak bekerja dibelakang layar tersebut sebagai mentor ataupun sebagai produser sebuah acara reality show dibeberapa stasiun televisi swasta tersebut.

Selain Dicky Chandra hal yang sama dikatakan 4 pemain senior lainnya.Mereka mengaku senang dan bangga bisa kembali bekerjasama dengan Erwin Kallo selaku PH dan produser dari film tersebut.

Hadir pula sebagai narasumber mantan wakil walikota Makassar Syamsu Rizal atau akrab disapa Dg Ical (DI).

DI mengapresiasi protes Erwin Kallo selaku seniman yang prihatin terhadap pemerintah terdahulu yang kurang mengapresiasi keberadaan dewan kesenian dan industri perfilman di Makassar.

“Event-event besar di Sulsel sangat jarang melibatkan kami di Dewan Kesenian Makassar.Kami merasah dianak tirikan.Kedepannya kami meminta Pemerintah lebih perhatian pada DKM karena ada pagandrang bulo (pemukul gendang) yang honornya belum dibayarkan hingga saat ini,”tukasnya.

Ia meminta pemerintah kedepannya agar membuatkan Perda bagi industri perfilman di Makassar tanpa harus mencari donatur lagi saat anak-anak muda Makassar ingin berkarya.

“Mari kita jadikan Makassar sebagai surganya film di Indonesia selain Jakarta,”pungkasnya.


Penulis : Nina Annisa






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.