Ini Alasan Konkrit Maya Ratih Angkat Tema Butta di Femme and CBFW 2019

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.ID.Perhelatan the International Woman Exhibition Female on the Move FEMME and Celebes Beauty Fashion Week (CBFW) resmi dibuka kemarin di Four Points by Sheraton, 3 April sampai dengan 7 April.

Mayaratih pernah mengharumkan nama Indonesia melalui karyanya yang tertuang dalam busana yang megah bertajuk Ibu Pertiwi, digunakan oleh Dea Goesti Rizkita perwakilan Indonesia di ajang bergengsi Miss Grand Interrnational yang digelar di Pulau Phu Quoc Vietnam 2017 lalu.

Busana hasil rancangan Mayaratih yang digunakan Dea ketika itu diganjar penghargaan khusus kategori best national costume mengalahkan 77 kontestan lainnya. Busana tersebut memang dirancang untuk menunjukkan filosofi tentang Indonesia yang beragam nan indah.

Pagelaran Fashion Show Femme 2019 kali ini, Mayaratih hadir dengan kejutan baru. Mayaratih bakal mengangkat tema “Butta” yang berarti tanah, dalam bahasa Makassar dimanna merupakan salah satu unsur kehidupan yakni tanah, air, api, dan angin. Mayaratih mengusung kain aksara lontara yang memiliki filosofi yang indah menarik.

Melalui keterangan resminya, Mayaratih mengungkapkan rasa rindunya sekiranya generasi muda tidak lupa untuk melestarikan budaya dan bisa diadaptasikan dalam industri fashion Menjadi suatu karya yang lebih indah dari generasi ke generasi tanpa menghilangkan sejarag dan originalitasnya.

Mayaratih menambahkan bahwa filosofi Lontara Makassar sendiri terinspirasi dari bentuk Segi Empat atau disebut ” sulappa’ appa’ ” yang berprinsip pada dimensi mikrokosmos melalui proses kejadian manusia yang berasal dari “ Sulapa’ Appa’ “ yang terdiri dari 4 unsur kehidupan tadi, yakni tanah, api, air, dan angin.

Nah salah satu unsur kehidupan tersebutlah yang diangkat “Tanah” kemudian di tuang dalam busana yang indah dengan melihat filosofinya melihat keindahan pada ketidaksempurnaan alam.

Kerusakan yang membentuk celah-celah. Retakan-retakan yang terbentuk indah, semuanya adalah tanda goresan dari perubahan cuaca dan peninggalan sang waktu.

“Mengingatkan kita semua bahwa kita hanyalah makhluk hidup sementara di muka bumi ini. Kita dan material disekitar kita sedang berproses untuk kembali kepada debu dan tanah dari mana kita berasal,” ungkapnya melalui siaran persnya.

Oleh karena itu retakan retakan dan kerusakan yang terjadi harus kita kembalikan menjadi indah sebagai warisan bagi generasi penerus di masa depan. Konsep keseluruhan outfit yang akan di tampilkan yaitu modern ethnic glam, yaitu perpaduan kain etnik aksara lontara dengan bahan sequin,chiffon dan lain sebagainya. Dengan detail embroidery dan beading di setiap outfit.

“Permainan Warna yang di pilih adalah hitam yang melambangkan pembusukan, dan warna hijau pupus,warna coklat tanah, dengan detail gold sebagai warna dominan pada detail yang melambangkan sentuhan kemewahan dan hijau pupus,” paparnya.

Di Fashion Show FEMME 2019 kali ini Mayaratih berkolaborasi dengan salah satu designer accessories Indonesia Zara Tantriabeng dengan Brand “HEXAGON” Dengan accecories bergaya Edgy dan Modern akan menyempurnakan “outlook” yang di tampilkan semalam.(*)

Editor by Nina Annisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.