Perkembangan Perekonomian Global dan Nasional

Makassar.daulatrakyat.id.Ketidakpastian ekonomi global masih tinggi di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak merata.

Ekonomi AS diperkirakan tetap kuat, sementara pertumbuhan ekonomi negara-negara Emerging Market dan Eropa diperkirakan lebih rendah dari prakiraan.

Ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi global tersebut tidak terlepas dari ketegangan perdagangan antara AS dengan sejumlah negara lain.

Ketidakpastian AS menurut Direktur Eksecutive Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bambang Kusmiarso  yang terus meningkat mendorong peningkatan ketidakpastian keuangan global dan penguatan dollar AS yang berlanjut serta mendorong para investor menempatkan dananya di aset-aset yang dianggap aman, khususnya di AS sehingga meningkatkan ketidakpastian dan risiko terhadap Emerging Market.

“Peningkatan FFR dan Normalisasi Kebijakan Moneter AS memperbesar tekanan terhadap emerging market,” kata Bambang.

Tingginya ketidakpastian global,siklus kenaikan FFR yang dibarengi dengan balance sheet reduction mendorong perilaku risk-off dan capital outflows dari emerging market dan menjadi salah satu pemicu meningkatnya tekanan mata uang negara-negara emerging market,”ujar Bambang

Dijelaskan kondisi tersebut memicu harmonisasi respon kebijakan moneter (tightening) dengan menaikkan suku bunga kebijakan untuk menarik masuk modal asing.

Perekonomian Indonesia meningkat cukup tinggi terutama didorong oleh permintaan domestik dari konsumsi swasta dan Pemerintah serta investasi yang tetap kuat. PDB tumbuh 5,27% (yoy) pada triwulan II 2018 atau tertinggi sejak 2013.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 5,14% (yoy) didukung oleh perbaikan pendapatan dan keyakinan konsumen serta terjaganya inflasi.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi terutama di topang oleh membaiknya ekonomi Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta masih kuatnya ekonomi Jawa, Sulawesi dan Maluku. Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan cukup kuat ditopang oleh peningkatan investasi dan konsumsi, di tengah perbaikan ekspor yang masih terbatas.

Defisit Neraca Perdagangan Menurun. Neraca perdagangan di Indonesia pada Agustus 2018 mencatat defisit USD 1,02 miliar, menurun dibandingkan dengan defisit neraca perdagangan bulan sebelumnya sebesar USD 2,01 miliar.

Defisit neraca perdagangan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan impor migas. Sementara itu, neraca perdagangan non migas kembali mengalami surplus setelah mengalami defisit pada bulan sebelumnya seiring dengan menurunnya impor non migas.

Inflasi pada September 2018 tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan. Inflasi pada September 2018 tercatat 2,88% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya (3,20%; yoy). Penurunan inflasi terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran dengan penurunan terbesar terjadi pada kelompok bahan makanan.

“Kedepan, inflasi diprakirakan tetap terkendali dan berada dalam sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5┬▒1% (yoy). Koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat terutama dalam rangka antisipasi risiko meningkatnya inflasi bahan makanan menjelang akhir tahun,”jelas Bambang.

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga disertai intermediasi perbankan yang membaik. Pada Juli 2018, ISSK (Indeks Stabilitas Sistem Keuangan) cenderung stabil dan berada dalam zona normal serta risiko sistemik perbankan masih terjaga dan berada dibawah threshold.

“Alhamdulillah Intermediasi perbankan membaik sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kredit. Sementara itu, pertumbuhan DPK terjaga di level 6,91% (yoy) pada Juli 2018 dibandingkan periode sebelumnya (7,00%, yoy),”terangnya.(*)

 

Editor : Nina Annisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.