Pasca Gempa, Kota Tua Donggala Tinggal Cerita Kenangan

Donggala.daulatrakyat.id- Kota tua Donggala Sulteng yang terkenal dengan pusat ekonomi dan perdagangan antar pulau . Kini tinggal kenangan. Saudagar Bugis-Mandar pernah jaya di kota itu. Hingga sekarang Donggala masih menjadi pusat perdagangan copra dan cengkeh.

Jumat pekan lalu kota tersebut lululantak  diterjang gelombang tsunami. Gudang-gudang kopra dan cengke yang berdiri angku itu sebagian ambruk dan rata dengan tanah.

Puing-puing bangunan berserakan terlihat di mana-mana. Kompleks Gudang di Boya Kecamatan Benawa Donggala berada dibibir pantai. Maklum pelabuhan Benawa itu masih menjadi urat nadi ekonomi antar pulau.

Pasca gempa dan tsunami, kota itu seperti tak menggeliat lagi. Di kota inilah ratusan warga harus kehilangan nyawa.

Menurut salah satu warga Labuang Boja, ada sekitar 100 lebih orang meninggal akibat gempa.

Cerita duka itu dituturkan salah satu warga Asrar, Jelang magrib detik-detik gempa dan tsunami itu datang menerjang,, saat dirinya tengah mengomandangkan adzan magrib di salah satu masjid di pinggir pantai.

Warga menyelam mencari warga yang ikut tertelan air laut

Suara brak..brak tiba-tiba terdengar atap dan plafon masjid itu terjatuh disamping kiri-kanan.

Ia masih bertahan hingga kalimat Hayya Alal Falah menggema. Suara hentakan keras dan guncangan menghempas itu membuatnya harus berlari  keluar dari Masjid.

“Untung belum ada jamaah yang datang saat gempa terjadi,” tutur Asrar sembari mengais ronsokan barang-barang miliknya yang masih tersisa.

Begitu kaget saat langkah kakinya baru beberapa langkah dari pintu masjid terdengar suara keras. Masjid itu rubuh sebagian mimbarnya tersapu gelombang tsunami.

Pasar lama Kompleks Gudang Donggala rata dengan tanah

Ditengah duka, Warga Labuang Boja Donggala ini belum tersentuh bantuan.

” Belum ada bantuan yang masuk kesini,” keluhnya.

Padahal Kota Donggala merupakan daerah yang cukup parah akibat gempa dan tsunami.

Di Kelurahan Boja Kecamatan Banawa tergolong padat penduduk. Pasar tua itu di penuhi gudang kopra dan cengkeh.

Kini sebagian gudang itu rata dengan tanah. Rumah warga yang bermukim diatas laut yang sudah ditimbun hilang lenyap di telan pusaran air laut yang disertai gelombang tsunami.

Rumah di pinggir pantai Donggala

Penghuninya yang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak harus meradang nyawa.

Dari 37 orang yang menghuni rumah tersebut. 24 orang ditemukan  mengapung dilaut dan sudah meninggal dunia. Masih ada 13 orang yang belum ditemukan.

Ketua RT III Boja Kecamatan Banawa Andi Gobel mengungkapkan. Saat gempa dan gelomlang tsunami datang. Rumah warga yang rata-rata diatas laut langsung ambruk dan ditelan pusaran air laut. ” Rumah itu langsung ditelan pusaran air laut,” tutur Gobel.

Pusaran air laut yang meliuk-liuk meghisap rumah tersebut  bersama penghuninya. Hanya 4 orang yang bisa menyelamatkan diri. Selebihnya hilang lenyap ditelan laut.

Dari pantauan daulatrakyat.id, nampak warga berusaha menyelam mencari warga yang masih hilang. Dengan menggunakan alat seadanya seperti dibantu compresor. Dari atas kapal Ia melancat turun kedalam laut.

Beberap menit kemudian. Ia muncul dan berteriak. Bahwa dibawah sana sang penyelam tradisional itu menemukan sejumlah motor.

Andi Gobel menuturkan sehari pasca gempa mayat-mayat itu mengapung di laut. Dan hari ini telah dikuburkan massal.

Penulis : Salim Majid

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.