Trans Studio Theme Park Hadirkan Kisah Legenda “I Maddi Daeng Ri Makka

Makassar.daulatrakyat.id.Trans Studio Theme Park Makassar kerjasama dengan Dewan Kesenian Makassar (DKM) dan Teater Makassar menggelar pertunjukan cerita rakyat dari Jeneponto dengan judul I Maddi Daeng Rimakka merupakan Legenda Turatea.

Pertama kali dikisahkan Trans Stu mulai hari ini sampai dengan tanggal 14 April 2018 Pukul 14.30 WITA di Trans City Theatre.

Luisito Hari Krisanto selaku General Manager Transtu mengatakan pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Campaign Awareness yang dijalankan pihaknya sejak 2017 lalu.

Dijelaskan “Akkarena ri Trans Studio” adalah upaya memperkenalkan kembali budaya Sulawesi Selatan dan permainan tradisional kepada generasi muda yang kini mulai terkikis zaman dan teknologi.

Pertunjukan Teater I Maddi Daeng Rimakka juga adalah bentuk tanggung jawab management Trans Studio Theme Park Makassar kepada masyarakat untuk mengobati kerinduan akan kisah-kisah inspiratif dan heroik dari Sulawesi Selatan.

“Sudah menjadi tanggung jawab kita yang bukan hanya memberikan suguhan hiburan semata kepada masyarakat tapi bagaimana cerita dan legenda yang ada di Sulawesi Selatan,”ujarnya.

Menurutnya mengangkat kisah alias legenda anak Sulsel yang terkenal dengan keberaniannya agar anak muda khususnya generasi penerus bangsa bisa mengetahui dan memiliki kesadaran (awareness)

“Pastinya mereka akan memahami nilai-nilai luhur yang bisa mereka teladani dari kisah I Maddi Daeng Rimakka,”terangnya.

Adapun Sinopsis dari cerita tersebut yakni
Pagi itu I Maddi Daeng Rimakka bersama beberapa tetangganya bermain raga. Usai permainan raga, mereka minum kopi dan menikmati penganan alakadarnya yang dibuat oleh I Mulli Daeng Massayang, istri I Maddi.

Tak lama setelah kepergian para pemain raga, dari jauh terdengar derap kaki kuda berlari kencang. Rupanya dia Kalawaki (Gembala Kuda), datang melapor kepada I Maddi, bahwa kuda dan kerbau milik Karaeng Bontotannga dicuri, justru oleh keluarga sendiri.

Laporan Kalawaki semakin jelas melalui Toddo Appaka ri Layu, Paman I Maddi yang datang kemudian. Sang Paman bahkan menyebut nama, antara lain I Rambu Daeng Rimoncong dan I Manja Daeng Manyarrang, orang dekat I Maddi.

Malahan diisukan bahwa gagasan pencurian itu adalah I Maddi sendiri. Karena itu, Toddo Appaka mengusulkan agar I Maddi membayar saja kuda dan kerbau itu sebagai ganti rugi.

Tapi usul itu ditolak oleh I Maddi.

“Dengar, Paman. Sekarang ini sudah dua corengan arang di keningku. Pertama, oleh Karaeng Bontotannga dengan menuduh akulah yang menyuruh curi kuda dan kerbaunya.

Kedua, oleh Pamanda sebagai Toddo Appaka, dengan menyuruhku membayar sebagai ganti rugi terhadap sesuatu yang nyata-nyata di luar pengetahuanku.

Tak mungkin aku membayarnya karena memang bukan aku yang mencurinya, atau menyuruh orang lain mencurinya. Mungkinkah…?”

Ibu I Maddi yang sehari-harinya dipanggil Bunda Karaeng serta istrinya I Mulli Daeng Massayang menasihatkan agar membatakan niat untuk bertarung melawan pamannya sendiri, karena sebentar lagi I Maddi akan diangkat menjadi raja.

Selain itu, Bunda Karaeng serta I Mulli bermimpi buruk, yang merupakan tanda bahwa marabahaya akan menimpa mereka.

Namun, I Maddi sudah merasa nipakasiri’ (dipermalukan). Demi kejelasan persoalan, I Maddi memanggil I Rambu Daeng Rimoncong dan I Manja Daeng Manyarrang.

Setelah didesak oleh I Maddi, kedua orang itu mengaku bahwa dialah yang mencuri kuda dan kerbau itu, bahkan sudah tidak ada karena telah disembelihnya. Dan, untuk itu keduanya siap memikul risiko apapun yang bakal datang.

Tapi bagaimanapun, I Maddi tetap bertanggungjawab atas segalanya, lantaran I Rambu dan I Manja adalah orang terdekatnya.

Siri’ I Maddi semakin dalam saat Kr. Bontotannga datang bersama beberapa pengawalnya, dan puncak dari segalanya adalah pertarungan antara mereka sekeluarga yang mengakibatkan korban tak sedikit bagi kedua belah pihak.

Dan, ternyata pertarungan antar keluarga itu justru disebabkan oleh adu-domba pihak ketiga.

Tujuan adu-domba itu adalah untuk menguasai daerah Turatea dalam bentuk penjajahan, karena patahnya hubungan antar keluarga itu berarti kekuatan Turatea pun pecah.

AkhirnyaI Maddi dan kr Bontotannga tewas dalam pertarungan itu.

 

Penulis : Nina Annisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.