Belajar Integritas Dari Seorang H Agus Salim

 

Haji Agus Salim dengan nama aslinya Mashudul Haq yang berarti “Pembela Kebenaran” Ia merupakan Tokoh Perjuangan Kemerdekan Indonesia asal Koto Gadang dekat Bukit Tinggi Sumbar.Ia seorang wartawan pejuang kemerdekaan pers.

Tak hanya sebagai wartawan. Ia seorang diplomat. Dan mengusai 9 bahasa dengan fasih.Ia pernah menjadi Dewan Kehormatan PWI pertama pada tahun 1952.

Agus Salim pernah menjadi pemimpin redaksi Neratja,kemudian berubah nama harian Hindia Baroe.

Sosoknya sangat fenomenal. Integritasnya didunia wartawan tak di ragukan. Prinsip kemerdekaan pers dipegang teguh.Tak goyah dan tak mudah menyerah.

Tulisan-tulisannya lahir dari pikiran jernih. Prinsip kebebasan pers menjadi utama dalam menjalankan profesinya.

Buku 121 Wartawan Hebat Dari Ranah Minang

Memuji atau kritik terhadap pemerintah masa itu. Menjadi menu sehari-hari. Prinsipnya mengedepankan kepentingan publik diatas segala-galanya.

Kritik yang konstruktif sebagai solusi dalam perjuangan kemerdekaan pers.Tugas yang di embannya sebagai pimpred harus dengan kebebasan.

Agus Salim mampu menempatkan posisi sebagai wartawan dan Pimpinan Sarekat Islam.

Ketika dia menulis,maka dibenaknya adalah tentang perhatian terhadap rakyat Indonesia. Bukan sebagai Sarekat Islam atau rapat partai.

Intervensi pemilik Hindia Baroe membuatnya harus meletakkan jabatannya sebagai pimpinan redaksi.

Rela mengorbankan jabatannya sebagai pimpred hanya persoalan prinsif. Agus Salim tak takut kehilangan jabatan demi kepentingan Rakyat.

Integritas seorang wartawan amatlah berat.Disana akan bicara soal moral,kejujuran dan hati nurani.

Satu tantangan diera globalisasi.Ditengah pertarungan idealisme media dan industri media.

Dua zaman yang berbeda yaitu pers sebagai medium perjuangan kemerdekaan dan pers sebegai medium industri.

Kendati dua zaman yang berbeda. Idealnya memberi eksistensi kemerdekaan pers dan integritas sebagai prinsip teguh yang harus di pegang.

Mengukur integritas tak cukup dengan selember sertifikasi wartawan. Tapi kesadaran yang kuat akan tugas yang di embannya.

Melatih kesadaran tak cukup dengan etika.Tapi harus di barengi dengan sikap dan prilaku.Cerminan itu akan dapat dilihat dalam karya jurnalistik seorang wartawan.

Catatan ini disadur dari profil dan riwayat hidup H Agus Salim dalam buku 121 wartawan Hebat dari Ranah Minang yang ditulis Hasril Chaniago.

(Salim Majid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.