Mengatasi Persoalan Perberasan Nasional

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf (Ketua KPPU RI)

Ada beberapa point penting dan menjadi persoalan ketidakstabilan harga dan pasakon beras nasional. Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengurainya dan cara mengatasinya dalam catatan singkatnya.

Permasalahan kenaikan harga dan ketidakstabilan pasokan beras saat ini disebabkan oleh beberapa hal berikut:

1. Tingginya disparitas harga beras internasional dibandingkan dengan harga beras di dalam negeri memberikan dorongan untuk melakukan impor. Menurut data FAO Pada tahun 2017, harga beras Vietnam sekitar US$ 0,31 per kg atau setara dengan Rp. 4.100 per kg (Kurs rupiah per US dollar sebesar Rp. 13.225) dan Thailand harganya sekitar US$ 0,34 per kg atau setara dengan Rp. 4.496 per kg). Sementara harga beras di dalam negeri sekitar US$ 0,79 per kg menurut FAO atau sekitar Rp. 10.447 per kg secara rata-rata.

2. Rendah nya kredibilitas data produksi beras yang dipublikasikan oleh BPS dan Kementan.

3. Sistem distribusi beras yang buruk karena terlalu panjang sehingga rawan aksi spekulasi.

4. Peran bulog yang belum optimal menopang pasokan beras Nasional melalui Operasi pasar beras.

Beradasarkan permasalahan-permasalahan di atas maka solusi nya dalam jangka pendek, menengah dan panjang, yaitu:

1. Meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian (tanam, panen dan paska panen) di hulu dan juga memperbaiki tata niaga beras sehingga adil bagi petani, pedagang dan konsumen.

2. Melakukan audit data produksi beras di BPS dan Kementan bersama-sama perguruan tinggi sehingga tidak terus menerus menjadi sumber perdebatan.

3. Percepatan penyederhanaan rantai distribusi melalui implementasi koorporatisasi petani dengan mengintegrasikan usaha pertanian dari hulu ke hilir. Langkah ini menjadi tangungjawab kemendag dan Bulog.

Pemerintah perlu mengadopsi sistem pemasaran online Dalam pemasaran beras sehingga petani bisa secara langsung menjual berasnya ke konsumen akhir atau retailer tanpa melalui jalur pemasaran yang panjang.

4. Pengembangan pasar induk beras nasional di sentra-sentra produksi beras nasional seperti di Sulawesi Selatan, Jatim, Jateng, Jakarta – Jabar dan Sumut. Pasar Induk diharapkan dapat menjadi sumber referensi ketersediaan atau pasokan dan harga beras nasional. Langkah ini Menjadi tanggungjawab Bulog dan Kemendag.

5. Optimaslisasi peran bulog dalam operasi pasar melalui peningkatan penyerapan beras petani.

6. Penegakan hukum terhadap spekulan yang sengaja mempermainkan pasokan dan harga. langkah ini menjadi tanggungjawab KPPU dan Kepolisian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.